Tampilkan postingan dengan label Nulis Yuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nulis Yuk. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

Sejuta Manfaat Menulis (4)

Yang ke lima, menulis juga dapat menjadi success booster, pendorong kesuksesan. Bila kita tengok kembali manfaat-manfaat menulis dari empat sudut pandang yang telah kita perbincangkan, maka kesemuanya berpengaruh pada kesuksesan seseorang. Selain itu banyak alasan mengapa menulis mampu mendorong kesuksesan. Beberapa di antaranya adalah;
Seorang penulis pastilah kaya akan ide. Untuk menyusun karya tulis, apa lagi berbentuk buku, seorang penulis harus menggali sebanyak-banyak ide. Entah ide itu benar-benar dia tuang dalam tulisan atau disimpannya dalam bank ide. Semakin lihai dalam menemukan ide-ide unik dan original, semakin bagus pula kualitas karya tulisnya. Nah, ide-ide itu, baik yang masih dia simpan maupun telah dia tuang dalam tulisan, dapat menjadi inspirasi bagi dirinya. Di antara ide-ide yang bertabur, akan ada yang menuntunnya pada jalan sukses.
Apa yang kita tulis juga dapat menjadi sarana afirmasi diri. Selain mendorong pembaca untuk bergerak, berbuat seperti apa yang dituliskan, kita sendiri akan terdorong untuk berbuat lebih baik lagi. Bila kita menuliskan motivasi shalat tahajud misalnya, insya Allah, secara otomatis kita akan terdorong untuk semaksimal mungkin membiasakan shalat tahajud.
Saya sering merasakan, bahkan di saat menulis tentang motivasi untuk berbuat suatu kebaikan, perasaan saya terasa menggebu, gairah meluap, ingin rasanya segera bertindak sesuai apa yang saya tuliskan. Dalam proses penyelesaian tulisan, membaca ulang, mengedit, menambah dan memotong, mempercantik bahasa dan seterusnya, fungsi tulisan sebagai afirmasi menjadi lebih nyata. Maka, apa yang kita tulis pun kian mendekati kenyataan. Bila kita menulis tentang KESUKSESAN, berarti kita kiat dekat dengan SUKSES. Hal ini berlaku timbal balik. Bila sungguh-sungguh melakukan apa yang kita tulis, insya Allah tulisan kita juga lebih bertenaga, lebih memiliki daya gerak, lebih memotivasi pembaca.
Berkaitan dengan visi, tujuan hidup atau cita-cita telah banyak yang melakukan penelitian, bahwa menuliskannya dapat mendorong pencapaian-pencapaian besar. Di antaranya sebuah penelitian terhadap lulusan program MBA di Harvard University. Dari interview diketahui bahwa 84% dari lulusan tersebut tidak memiliki tujuan yang spesifik, 13% memiliki tujuan yang spesifik, tapi tidak menuliskannya dan 3% memiliki tujuan yang spesifik serta menuliskannya. Sepuluh tahun kemudian diketahui bahwa 13% yang memiliki tujuan spesifik tersebut memiliki pendapatan rata-rata dua kali lebih besar dari yang 84%, tidak memiliki tujuan. Hebatnya lagi 3% yang memiliki tujuan spesifik dan menuliskannya memiliki pendapatan rata-rata sepuluh kali lebih besar dari yang lain, 97%.
Bagaimana hal demikian dapat terjadi? Brian Kim dalam websitenya mengatakan bahwa menuliskan tujuan adalah kekuatan yang dahsyat untuk mendefinisikan secara jernih apa yang benar-benar kita inginkan. Menuliskan tujuan juga dapat memberi ruang pikiran sehingga kita dapat berpikir pada tingkat yang lebih tinggi. Di samping itu, kita juga akan menjadi lebih kreatif. Nah, bila belum, silahkan segera tuliskan cita-cita dan tujuan hidupmu. Tak peduli akan terbit menjadi buku atau tidak, aktifitas menulis itu sendiri sudah memberi banyak manfaat.
Saya sendiri telah membuktikan kebenaran teori ini. Banyak hal yang dulu yang inginkan dan saya tulis di buku atau di komputer ternyata kini telah menjadi nyata. Saya sempat tercenung sendiri ketika membuka kembali buku tempat saya corat-corat apa saja. Di situ saya menemukan tulisan tentang beberapa target yang ingin saya gapai. Salah satunya terbitnya buku UNLIMITED LEARNING pada tahun 2009. Kini saya tahu, target tersebut telah tercapai. Padahal saya sempat mengajukan naskah buku tersebut ke penerbit dengan judul yang berbeda, bukan UNLIMITED LEARNING. Tapi ternyata pihak penerbit merubah kembali judulnya menjadi UNLIMITED LEARNING, seperti yang dulu saya targetkan.
Masih berkaitan dengan success booster, aktifitas menulis dan hasil tulisan kita juga dapat menjadi guide, pemandu arah menuju puncak sukses. Setelah menuliskan tujuan, kita dapat lanjutkan dengan menuliskan langkah-langkah yang mesti ditempuh, target-target jangka pendek maupun jangka panjang, hal-hal yang mesti dihindari dan seterusnya. Hal ini sangat membantu kita dalam menetukan langkah, membimbing kita menaiki tangga-tangga kesuksesan.
Di saat kita terbuai, terlena, atau terpuruk, sehingga hilang gairah, sulit melangkah dan akhirnya futur, berhenti dari berbuat kebaikan, maka tuisan kita dapat menjadi reminder. Membaca tulisan kita sendiri dapat menjadi penyegar pikiran, penyejuk hati, peneguh jiwa dan pembangkit semangat. Maka jangan ragu untuk menuliskan cita-citamu, kemudian menjadikannya screen saver pada notebook, menempelkannya di dinding kamar tidur atau memajangnya ditempat-tempat lain sehingga engkau akan sering menemui dan membacanya.
Ketika membaca tulisan “SEMANGAT!! Ayo berAKSI, fastabiqul khoirot!” misalnya, maka minimal kita akan malu bila menemui diri sedang malas-malasan, berbuat yang sia-sia atau bahkan melakukan perbuatan maksiat.
Nah, MENULIS dan SUKSESLAH!

Biar engkau pandai menulis, gabung yuks di KMB (Kurus Menulis Buku)

Jumat, 04 April 2014

Pengen Jadi PENULIS? Jadilah Orang KAYA!

Percaya bagus, kalau tidak tak ada yang melarang. Silahkan beri argumen yang lebih bermutu, lebih kuat, dan lebih meyakinkan. Akan tetapi inilah kesimpulan perenungan sesaatku beberapa menit lalu; kalau mau jadi penulis, harus kaya dulu!
Loh, kok? Apa tidak kebalik? Bukankah mestinya jadi penulis dulu, baru kaya-raya? Macam Andrea Hirata lah. Menulis, karyanya best seller, jadi kesohor, royalti menderas, kaya. Betul, itu mungkin sekali, menulis bikin kaya. Malah telah banyak bukti.
Akan tetapi, kali ini bukan kekayaan materi yang aku maksud. Tentu saja, tak harus jadi trilliuner baru boleh menulis. Tak wajib duitnya bejibun baru dapat menulis buku. Akan tetapi betul, kalau pengen jadi penulis sungguhan, kita harus kaya terlebih dahulu. Kaya apa?
KAYA ILMU.
Benar bahwa dengan membaca satu dua buku, engkau juga dapat menelorkan buku baru. Akan tetapi isi bukumu takkan jauh dari buku-buku yang kau baca. Malah kemungkinan besar, kualitasnya jauh lebih rendah. Sebab buku-buku yang kau jadikan referensi ditulis setelah melakukan riset bertahun-tahun. Sedang engkau hanya membaca beberapa buku. Cukup dengan satu dua minggu. Lalu kau meramunya, menyusun buku baru. Alih-alih jadi karya bermutu, malah seringkali hanya jadi produk Me Too. Karya yang mengekor, ikut-ikutan. Tak ada ilmu baru, tiada sesuatu yang berbeda.
Kaya ilmu dapat kita bagi menjadi dua; kaya bacaan dan kaya pengalaman. Dengan salah satunya, kita dapat menulis buku bermutu, apa lagi bila dua-duanya kita punya. Dahsyat pastinya!
Kaya bacaan. Beberapa sahabat penulis sering mengatakan, bahwa membaca adalah tenaga dalam seorang penulis. Betul sekali. Kian dahsyat dalam membaca, makin bermutu tulisan seseorang. Boleh engkau buktikan. Cari penulis buku yang sangat terkenal; Andrea Hirata, Kang Abik, Fauzil Adhim, Salim A. Fillah atau Helvy Tiana Rosa misalnya. Cobalah bertanya, bagaimana kebiasaan mereka dalam mebaca. Pasti dahsyat. Atau bila memungkinkan, berkunjunglah ke rumah mereka, lalu minta ijin untuk menengok koleksi pada perpustakaan pribadinya. Pasti luar biasa. Barangkali akan membuatmu tercengang. Buku sebanyak itu, buku-buku tebal begitu, kapan bacanya?
Semakin banyak membaca, kian melimpah referensi. Ketika hendak menulis tema tertentu, selalu menemukan data atau argumen pendukung. Belum lagi, dengan melimpahnya informasi, insya Allah otak kita yang kompleks pun bekerja kian dahsyat. Neuron saling kait, mencipta milyaran sinapsis, menjalin informasi, mengolahnya, membangun ilmu baru. Nah, kegiatan menulis, ibarat membangun rumah adalah menggabungkan batu bata, semen, pasir, kayu dan sebagainya sehingga menjadi bangunan yang megah. Begitulah, sekian banyak inforamsi yang kita peroleh dari membaca, kita pilah, kita olah, kita aduk, dan kita susun. Terkonseplah ilmu baru. Terbitlah buku bermutu.
Akan tetapi bila membaca tidak menjadi fokus keseharianmu, ada alternatif kedua; perkaya diri dengan pengalaman. Isilah hidupmu dengan kegaitan-kegaitan bermutu; menjadi guru, mentraining orang, berwira usaha, jadi relawan, gigih berdakwah, atau apa saja. Semakin melimpah pengalaman, kian banyak pula yang dapat engkau sajikan. Semakin hidupmu berisi, engkau akan lebih mudah untuk menghasilkan tulisan penuh gizi. Tulisan yang begitu menggungah, atau mengharu biru. Nendang.
Maka ketika membaca tulisan-tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah atau Sayyid Quthb misalnya, seakan menyihir. Tak hendak berhenti, karena selain indah juga penuh gizi. Tersebab, selain melimpahnya ilmu karena membaca, mereka mengisi hidup dengan perjuangan tiada henti. Tak sempat lelah dalam berdakwah, tak henti menyaringkan suara kebenaran. Bahkan ketika harus dipenjara, bukan menjadi akhir perjuangan. Tetap menulis, tetap berdakwa, mengkader orang. Melimpahlah pengalaman hidup. Kayalah jiwa. Makan tulisan-tulisan mereka menjadi begitu bertenaga, menghentak.
Alhamdulillah, meski masih terlalu sedikit ilmu, beberapa buku seperti Hidup Kaya Raya Mati Masuk Surga, Kekayaan Hati, Change Now, True Friend atau Muslim Tangguh, telah kutulis dan terbit. Sebab aku membaca. Sedang buku Ulimited Learning dan Journey of Life, kutulis dan terbit, lebih banyak karena pengalaman-pengalaman hidup yang sempat kujalani.

Nah, bila sungguh-sungguh pengen jadi penulis? Bila pengen karya-karya kita lezat dan bergizi, yuks, perkaya diri dengan ilmu. Banyak-banyak baca dan perkaya diri dengan amal-amal shalih yang bermakna. Insya Allah, kita bisa!

Engkau pengen jadi penulis? Gabung saja dengan KMB (Kursus Menulis Buku).

Rabu, 26 Maret 2014

Sejuta MANFAAT Menulis (2)

Manfaat ketiga, dari sudut pandang emotion. Telah banyak penelitian dalam hal ini. Kesimpulan secara umum, menulis akan meningkatkan emotional quotion. Kita akan lebih cerdas secara emosi.
Menuangkan pikiran dalam tulisan, tak ubahnya seperti kita sendang curhat. Malah efek releksasinya bisa lebih kuat karena kita dapat benar-benar menulis secara bebas, sebebas-bebasnya. Ketika sedang curhat secara langsung dengan orang lain, kita mungkin masih akan ada perasaan malu, tidak enak, takut rahasianya akan disebarkan dan sebagainya. Ketika menulis, perasaan-perasaan seperti itu tak perlu lagi mengganggu.
Dalam hal ini rasanya sulit untuk tidak menyebut Dr. James W. Pennebacker. Guru besar psikologi University of Texas ini telah melakukan penelitian selama 15 tahun tentang pengaruh membuka diri terhadap kesehatan. Hasil penelitian tersebut kemudian dia tuangkan dalam bukunya, Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. Dia mengatakan bahwa menulis dapat menjernihkan pikiran, mengatasi trauma, membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, membantu memecahkan masalah dan menulis bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.
Pennebacker mengisahkan tentang John Mulligan, seorang veteran perang Vietnam yang selama enam tahun menjadi gelandangan di North Beach, San Fransisco. Pengalaman berdarah-darah di Vietnam membuatnya trauma. Jiwanya terluka dan hampa. Akan tetapi hidupnya berubah sama sekali setelah mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan oleh penulis masyhur, Maxine Hong Kingston. Sepulang dari workshop itu, Mulligan memiliki paradigma baru, perasaan baru dan kehidupan baru. Dia pun mulai menuliskan semua perasaannya. Ternyata hal itu membantunya menghilang stress, kekusutan pikiran dan beban hidup. Dia pun jadi novelis. Suatu ketika penulis novel Shopping Cart Soldiers itu pun berkata; “Menulis menghindarkan saya dari kegelapan hidup!” Maka jelas, menulis dapat menjadi katarsis bagi jiwa, membersihkan diri dari sampah-sampah batin.
Wei Jingsheng seorang Cina yang membangkang pada pemerintahannya mememiliki cerita lain. Dia bertahan ketika dipenjara dan diisolasi selama delapan belas tahun. Dia mampu bertahan dengan tulisan. Dia dapat berkomunikasi dengan keluarga tercinta dengan tulisan yang di selundupkan ke luar penjara. Dengan tulisan tersebut dia juga dapat menyampaikan kepada dunia tentang penderitaan yang dialaminya. 
Tulisan itu akhirnya mampu membebaskannya dari penderitaan. Tulisan tersebut telah membuat dunia memberi tekanan pada pemerintah di negaranya untuk membebaskan Wei Jingsheng. 
Masih berkaitan dengan pengalaman pahit, Pennebacker melakukan riset dengan hipotesis bahwa penerjemahan pengalaman pahit ke dalam bahasa akan mengubah cara orang berpikir mengenai pengalaman tersebut.
Salah satu studinya kemudian dipublikasikan dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology edisi April 1998. Laporan itu menyebutkan bukti bahwa sel-sel T-limfosit para mahasiswa menjadi lebih aktif enam pekan setelah mereka menulis peristiwa-peristiwa yang menekan. Suatu indikasi adanya stimulasi sistem kekebalan.
Dalam hal ini, ada dua macam mekanisme utama yang melatari mengapa menulis pengalaman emosional mempunyai efek terapeutik:
1.      Berkaitan dengan menurunnya arousal emosional terhadap pengalaman traumatis, sehingga membuat orang jadi lebih toleran/tahan terhadap emosi.
2.      Membuka adanya penilaian kembali terhadap peristiwa emosional sehingga peristiwa tersebut dimaknai secara baru dan dalam kerangka positif.

Mempublikasikan tulisan juga merupakan sarana ekspresi dan aktualisasi diri. Menambah bukti bahwa menulis dapat meningkatkan kesehatan mental-emosional, Victor Frankl, psikolog yang menggagas logoterapi mengatakan bahwa kebermaknaan hidup memiliki pengaruh yang luar biasa dalam meningkatkan kebahagiaan bahkan successful aging seseorang. Victor Frankl sendiri terkenal sebagai seorang yang berhasil survive dari camp Nazi dengan memahami kebermaknaan hidupnya.

Nah, bila engkau pengen jadi penulis, gabung aja dengan KMB (Kursus Menulis Buku).

Minggu, 23 Maret 2014

Sejuta MANFAAT Menulis (1)

Benar, tulisan dapat menjadi tonggak perubahan dunia, mengobarkan pergerakan dan mencipta peradaban. Tak cukup sampai di situ, karena menulis memiliki segudang manfaat lain. Andai kau hendak menulis secara detail tentang manfaat menulis, insya Allah akan jadi buku tersendiri. Maka bukan berlebihan kalau saya katakan, menulis memberikan sejuta manfaat.
Kali ini, mari kita perbincangkan di antara manfaat menulis, khususnya bagi diri penulis. Untuk membuatnya simpel, saya telah mengelompokkannya menjadi lima, manfaat menulis dari segi religion, education, emotion, healt dan success booster.
Yang pertama dari sudut pandang Religion. Tentu saja maksud saya adalah dari sudut pandang keberagamaan kita sebagai umat Islam. Sebelumnya telah kita obrolkan, bahwa tulisan dapat menjadi sarana dakwah yang luar biasa. Dengannya kita dapat memperoleh pahala yang tak henti-hentinya mengalir. Bila sebuah tulisan masih dibaca dan dimanfaatkan orang untuk kebaikan, maka insya Allah akan terus tercatat pahala buat penulisnya, meski dirinya telah lama tiada.
Dalam riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, Rasulullah telah bersabda: “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”. Maka, mari menabung pahala dengan menulis.
Lebih dari itu, seorang penulis dapat menjadi salah seorang yang dijanjikan pertolongan Allah. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah; seorang mujahid yang memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah demi menjaga kehormatannya.” (HR. Thabrani)
Bagaimana mungkin kita hendak menolak peluang yang luar biasa ini. Bila pertolongan Allah telah datang, maka segala sesuatu akan menjadi mudah. Tiada lagi kesulitan yang berarti. Bahagialah hati.
Kedua, dari sudut pandang Education. ”Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” demikian sahabat Ali bin Abi Thalib ra berpesan. Tepat sekali. Sebuah tulisan dapat dibaca dan dibaca kembali, karena itu ia dapat menjadi solusi permasalahan ”lupa.”  Bila terlupa mengenai suat hal, tinggal buka kembali apa yang pernah kita tulis.
Di samping itu, aktifitas menulis sendiri juga membantu kita dalam mengingat. Boleh dicoba. Silahkan ambil kamus bahasa Inggris. Carilah tiga kata yang sama sekali belum kau kenal. Kemudian cobalah menghapal tiga kata itu beserta artinya. Bersama itu, tulislah tiga kata Bahasa Inggris dan artinya tersebut BESAR-BESAR. Setelah itu carilah lagi tiga kata lain yang juga belum kau kenal. Cobala menghapal beserta artinya pula, tapi tak usah menuliskannya. Besok, cobalah untuk mengingat kembali enam kata Bahasa Inggris beserta artinya yang telah kau hapalkan. Kata-kata mana yang lebih mudah kau ingat? Kemungkinan besar, jawabnya adalah tiga kata pertama yang telah kau tulis. Bila ada yang terlupa, kemungkinan besar adalah di antara tiga kata yang tak kau tuliskan.
Aktifitas menulis juga akan menstimulus kerja otak, terutama otak kanan. Menulis mendorong kita untuk selalu berpikir kreatif. Menyusun kerangka, menghubungkan satu perkara dengan perkara yang berbeda, menyusun logika, membuat kalimat-kalimat menjadi indah, menggunakan metafora dan seterusnya. Hal ini ini insya Allah membuat otak kita semakin cerdas.

Selain itu menulis juga dapat membuat kita terbiasa berpikir logis, sistematis dan kompleks. Seorang penulis setidak-tidaknya akan terbiasa untuk menyusun kalimat-kalimat pembuka, inti permasalahan dan penutup. Bila menulis buku yang tebal, penulis akan menyusun pula sederet sistematika yang lebih kompleks dan terkadang rumit. Maka insya Allah kebiasaan menulis juga membantu kita dalam berkomunikasi secara verbal. Ketika berbiacara di depan publik, kita tak lagi memberikan penjelasan yang meloncat-loncat atau bahkan mengandung logika-logika yang keliru. Mudah-mudahan. Bersambung...

Btw, kalau pengen jadi penulis, engkau bisa gabung di KMB (Kursus Menulis Buku).

Kamis, 20 Maret 2014

Seperti Stephen King, Tak Menyerah

Bahwa Joni Ariadinata pernah menjadi tukang batu, pernah jadi tukang becak, cukup lama aku mengetahuinya. Lalu tentang J.K Rowling, kurasa engkau telah cukup akrab dengan kisah hidupnya. Ketika kubaca biografi singkat penulis-penulis dahsyat yang mendunia, ternyata kudapati hal-hal serupa. Seperti Stephen King yang pernah bekerja menjadi buruh di sebuah industri pakaian, bahkan menjadi penjaga POM bensin, atau Agatha Cristhie yang pernah jadi perawat di rumah sakit. Rata-rata mereka juga menempuh halang rintang ketika memulai karir kepenulisan, seperti novel pertama Stephen King yang ditolak dan dibuang oleh penerbit, novel pertama John Grisham yang berkali-kali ditolak, juga novel pertama Agatha Cristhie yang baru terbit setelah empat tahun selesai ditulisnya.
Untung, mereka tak menyerah, lalu berhenti menulis. Maka kita dapat menikmati ketegangan dan keindahan bahasa novel-novel King, juga dibuat tegang dan penasaran oleh karya-karaya Grisham, si spesialis dunia hukum itu, misalnya.
Suatu ketika King menulis sebuah kisah tentang seorang remaja bernama Carrieta White. Setelah menulis beberapa lembar, mengingat berkali-kali penolakan yang telah diterimanya, King berpikiran bahwa tulisan yang satu ini juga tidak bagus. Ia pun membuangnya. Uniknya, istri King justru memungut naskah itu, membacanya, kemudian mensuport King untuk menyelesaikan kisahnya. Pun akhirnya King menyelesaikan kisah itu menjadi sebuah novel. Sebuah penerbit kemudian sangat tertarik, menerbitkan novelnya dengan judul Carrie. Kini kita tahu siapa King.
Nah, karena penulis-penulis dahsyat itu tidak menyerah, aku pun memutuskan untuk meneladani. Meski sebagai pemula, jumlah bukuku yang terbit sudah dapat dibilang lumayan, berbagai kesulitan menggeluti dunia tulis masih pula kutemui. Tentu saja tak boleh menyerah. Masih ada tantangan untuk menghadirkan karya yang benar-benar menggugah dan menyumbang berjuta makna bagi umat manusia, di seluruh dunia.

Buat sahabat-sahabatku para penulis, juga penulis-penulis yang tulisannya masih saja di tersimpan di brangkas pribadinya, yuks semangat!

Rabu, 19 Maret 2014

Buku dalam Liku Hidupku

Hingga menduduki bangku SLTA, aku hampir tak mengenal buku, kecuali buku-buku pelajaran. Itu pun paling aku baca buku kalau mau ada ulangan. Memang, sesekali aku juga mampir ke perpustakaan sekolah, tapi paling buka-buka majalah. Tak banyak yang kubaca, malah seringkali aku hanya melihat-lihat gambar-gambarnya saja.
Baru ketika kuliah, aku mulai mengenal buku. Karena pada sistem perkuliahan tak ada buku pegangan khusus, terpaksa aku harus baca banyak buku.. Mulanya aku hanya baca-baca buku yang berkaitan dengan mata kuliah. Ternyata mengasyikkan. Aku seringkali menjadi larut ketika membaca.
Berikutnya, aku mulai pinjam buku-buku umum di perpustakaan kampus. Aku terpesona oleh Quantum Learning karya Bobby d’Poter dan Mike Hernacki, kemudian terkagum-kagum pada Steven Covey dengan The Seven Habits-nya. Buku The Seven Habits of Highly Effective People inilah yang sangat membuatku bersemangat untuk memperbaiki diri, juga terus membaca buku. Setelah itu, aku mulai keranjingan baca buku. Hampir setiap hari aku ke perpustakaan kampus untuk pinjam buku. Hari ini pinjam dua buku, besok aku kembalikan sambil pinjam dua buku lagi. Hampir semua buku di perpustakaan kampus yang menurutku menarik sudah aku baca.
Sesungguhnya aku bukanlah mahasiswa yang berpunya. Aku asli wong deso, orang kampung. Tepatnya orang kampung tertinggal. Bapakku dulu buka bengkel sepeda, tapi sudah memensiunkan diri karena bengkelnya mulai tak laku. Sedangkan emakku berjualan sayuran dan kebuhan sehari-hari di rumah. Untunglah, aku bisa kuliah. Beasiswa full study telah menolongku. Aku bisa kuliah gratis, hingga memperoleh sarjana.
Sangu dari emakku hanya cukup untuk beli bensin dan beli makan kala-kala. Akan tetapi kini buku telah menjadi kebutuhan. Bila jalan-jalan ke toko buku, aku seringkali tak tahan untuk membeli. Maka sedikit demi sedikit kusisihkan uang saku dari emakku untuk beli buku, dua bulan atau tiga bulan sekali. Menjelang akhir masa kuliah, aku bekerja di rental komputer. Meski penghasilanku sangat sedikit, setidaknya aku bisa lebih sering beli buku.
Buku menjadi harta yang sangat berharga bagiku, walaupun koleksiku tak banyak. Aku mulai bermimpi, andai punya penghasilan besar, aku akan belanja buku sebanyak-banyaknya. Aku ingin punya perpustakaan pribadi. Maka setiap kali ada kesempatan, aku berusaha untuk membeli buku. Aku senang sekali bila di Jogja ada pameran buku. Aku bisa beli buku-buku dengan diskon besar. Malah ada buku-buku yang diobral sangat murah. Sepuluh ribu dapat, bahkan lima ribu juga oke. Wah, kesempatan.
Hingga lulus kuliah, kesukkaanku baca buku tak sirna. Akan tetapi, kini aku tak bisa lagi pinjam di perpustakaan kampus. Memang aku juga punya kartu perpustakaan daerah. Akan tetapi aku kini tinggal di Magelang, sudah jarang ke Jogja. Tak mungkin aku bolak-balik Magelang-Jogja terus sekedar untuk pinjam buku. Mau tak mau, aku harus menyisihkan sebagian dari penghasilanku bekerja di Baitul Mall wat-Tamwil (BMT) untuk membeli buku. Emmakku sering terheran-heran dan bertanya; ”Buat apa beli buku lagi beli buku lagi? Kan sudah tidak kuliah?”
Alhamdulillah, kecintaanku terhadap buku berbuah manis. Bermula ketika aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari BMT.Rencananya aku akan membuka rental komputer, kerja sama dengan kakak. Komputer telah dibeli. Akan tetapi tempat usaha yang telah kakak kontrak ternyata masih ditempati orang lain, jatuh tempo masih tiga bulan lagi. Padahal aku terlanjur mengundurkan diri.
Aku berpikir, apa yang dapat dilakukan dalam masa penantian ini?
MENULIS. Itu keputusanku.
Aku pun mulai menulis. Bermodal semangat, komputer dan perpustakaan pribadi yang koleksinya tak mencapai lima puluh buku. Pengalaman tidak, pembimbing apa lagi, tak ada. Pokoknya aku menulis. Bukan cerpen atau artikel, aku langsung menyusun sebuah buku.
Selesai menyusun naskah buku itu, aku langsung membawa soft copy-nya ke kantor penerbit Navila. Aku bertemu langsung dengan manajer penerbitan yang juga merangkap editor. Selain itu dia juga menulis buku. Solichul Hadi namanya. Naskahku dikopi ke komputer, langsung dibaca dan...., langsung DITOLAK!
Setidaknya aku punya satu pengalaman. Satu yang sangat aku ingat, manajer penerbitan itu bilang bahwa tulisanku terlalu kaku, tak enak dibaca.
Aku menulis lagi, kali ini dengan bahasa gaul ala remaja, bahasa tutur. Aku punya banyak kesempatan menulis, karena usaha rental komputer yang kini telah berjalan masih sepi pengunjung. Dalam dua minggu, naskah buku itu hampir selesai kutulis. Akan tetapi aku tak sabar untuk mendapat penilaian dari manajer penerbit yang kemarin. Maka aku bawa lagi tulisan itu ke kantor penerbitan yang sama. Kali ini aku hanya berharap masukan. Naskahku dikopi lagi ke komputer. Akan tetapi karena Pak Solichul Hadi sedang banyak pekerjaan, naskahku tak langsung dibaca.
Beberapa hari kemudian aku kontak Pak Solichul Hadi, berharap mendapat masukan darinya.
”Naskah saya bagaimana?” pertanyaanku.
”Oh, sudah diterima. Insya Allah akan segera kami terbitkan.”
JRENG!!!
Kejutan. Beberapa bulan kemudian, buku HIDUP KAYA RAYA MATI MASUK SURGA benar-benar terbit.  Pada covernya tertulis nama S. Rahman, nama penaku yang diberikan Pak Solichul Hadi. Siapa nyana?
Aku semakin semangat menulis, sembari menjaga rental komputer. Dalam dua minggu, naskah buku The Power of Smile selesai. Beberapa bulan kemudian, buku ini juga terbit. Masya Allah, aku benar-benar jadi penulis buku.
Setelah usaha rental komputer itu bangkrut, aku berganti-ganti pekerjaan. Mulai jadi anggota tim pendiri sebuah bank syari’ah, staff di sebuah kantor partai politik, hingga mendirikan Java Media Multimedian & Training Center bersama teman-teman. Yang tidak berubah, aku tetap menulis. Terbitlah buku Kekayaan Hati: Jadikan Hidup Anda Lebih Bermakna.
Menjelang pernikahan, bukuku yang keempat, CHANGE NOW! Jurus Duahsyat Muslim Huebat! sedang digarap oleh penerbit, tinggal tunggu tanggal. Kali ini bukuku gaul abis. Oleh Pro-U Media akan dibuat bookmagz, buku rasa majalah. Pada setiap lembarnya ada ilustrasi yang keren-keren. Karena itu aku mulai mencari nama pena baru. Nama S. Rahman rasanya kurang cocok untuk penulis buku gaul. Apa lagi nama asli, Surahman.
Seorang teman dekat yang juga penulis, Mr Fatan Fantastic memberi usul untuk nama penaku, Rahman Robert. Gila juga, tapi aku sempat tertarik. Akan tetapi setalah kucari-cari arti kata Robert, aku tidak dapat menemukannya. Paling mendekati adalah kata Rob; pencuri. Ah tidak jadi. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan nama pena Rahman Hanifan. Nah, buku Change Now dan buku-bukuku berikutnya terbit dengan nama pena itu.
Kepindahan ke Pemalang merupakan ujian tersendiri bagi karir kepenulisanku. Kotaku kecil. Komunitas penulis belum ada. Tuko buku kecil-kecil, bukunya tak lengkap. Mau pinjam buku juga tak banyak teman yang punya koleksi memadai.
Untunglah, bahwa setelah menikah, statusku benar-benar pengangguran. Maka aku tetap menulis. Dua buku kemudian terbit, MUSLIM TANGGUH dan TRUE FRIEND; Jurus Dahsyat Milih Sahabat!.
Tahun kedua di Pemalang, aku dilamar oleh sebuah yayasan, diminta jadi TU di SDIT ”Buah Hati.” Sampai saat ini aku masih bekerja di SDIT yang sama. Tak hanya menjadi TU, tapi juga guru dan lain-lain. Yang tidak berubah, aku tetap menulis. Alhamdulillah, beberapa buku atas namaku juga telah terbit semasa aku bekerja di SDIT.
Insya Allah, menulis akan terus menjadi bagian hidupku. Di mana pun berada. Mudah-mudahan, kesulitan-kesulitan yang aku temui, tak membuatku lelah dan menyerah. Nah, engkau bagaimana? Aku tunggu karya-karyamu.
Di samping itu, insya Allah kecintaanku akan buku takkan pernah sirna. Buku telah menjadi bagian hidupku. Seringkali buku dapat menjadi teman yang sangat menyenangkan, hingga membuatku tak henti-henti mengasyikinya. Akan tetapi tak cukup sampai di situ. Buku juga adalah gerbang dunia. Pikiranku dapat terbang melintas-lintas batas negara, meski raga berada di rumah. Dari buku aku mengerti banyak hal. Mulai dari hal-hal ringan hingga perkara-perkara serius. Mulai dari cara membuat layang-layang hingga parenting skill.

Alhamdulillah, kini aku bisa lebih sering membeli buku. Terutama ketika ada pameran buku, aku takkan sia-siakan kesempatan, belanja sebanyak aku bisa. Koleksiku bertambah, meski aku merasa masih sedikit. Apa lagi untuk ukuran seorang penulis, 250 buku pada perpustakaan pribadiku rasanya sedikit sekali. Mudah-mdahan Allah selalu memberiku kesempatan untuk terus manambah koleksi buku, juga menulis buku sendiri. Amin.

Jumat, 14 Maret 2014

Get Your Energy: Read a Lot

Dalam analogi teko, air minum yang dapat dituang darinya sebatas air yang masuk kepadanya, tak lebih. Begitu pula, ilmu yang dapat kita tuang dalam tulisan, takkan lebih dari ilmu yang telah masuk ke dalam diri, telah kita kuasai. Bila kita memaksa diri untuk menulis tentang hal-hal yang tidak kita pahami, maka dapat dipastikan, tulisan itu PAYAH dan tak dapat dipertanggungjawabkan.
Maka, membaca adalah SANTAPAN WAJIB bagi penulis. Seperti nasi, dia wajib ada. Apa lagi bagi penduduk Indonesia, rasanya belum makan kalau sehari perut belum kemasukan nasi, meski sesungguhnya telah melahap roti, ketela, pisang dan buah-buahan lainnya. Inilah fungsi membaca bagi seorang penulis, sekali lagi, seperti nasi. Bila seorang penulis mulai enggan membaca, siap-siap saja LEMAS, atau bahkan mengalami kematian. MATI IDE. Dia akan sering ketemu dengan writer’s block.
Cobalah kau tanya para penulis BESAR dan penulis-penulis produktif tentang bagaimana mereka membaca. Dapat dipastikan, bacaan mereka DAHSYAT. Boleh dibilang, apa saja mereka lahap. Sesekali sempatkan diri untuk berkunjung ke rumah penulis TERNAMA, kemudian mintalah ijin untuk memasuki ruang perpustakaannya. Mungkin engkau bakal ternganga melihat banyaknya koleksi mereka.
Nah, bila BENAR engkau pengen jadi penulis BESAR, bacalah. Iqra’. Kita ambil ibrah dari riwayat turunnya al-Qur’an. Perintah iqra’ menjadi yang pertama. Padahal, dalam al-Qur’an terdabat rupa-rupa perintah; ada perintah shalat, puasa, zakat, haji, qurban, amar ma’ruf nahi munkar, birul walidain dan banyak lagi. Tapi sekali lagi, perintah membaca menjadi yang pertama. Ini mengisyaratkan tentang betapa pentingnya membaca. Bagi siapa saja. Bagi PENULIS, tentu, jadi modal utama.
Satu ibrah lagi. Dalam surat al-‘Alaq, perintah membaca tidak diikuti oleh objek yang harus dibaca. Bukan BACALAH KITAB, BACALAH BUKU, BACALAH KORAN atau BACALAH dengan diikuti hal-hal lainnya. Akan tetapi iqra’ bismi rabbikal ladzii khalaq dan iqra’ warabbukal akram. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan dan bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.
 Apa artinya? Kita diperintahkan untuk membaca apa saja. Yang bermanfaat tentu saja. Jadi, jangan membatasi untuk membaca buku saja atau membaca tema-tema tertentu saja. Lahap apa saja, insya Allah akan memberi sumbangan peda kemajuan diri. Dan jangan lupa, kembalikan semua kepada Allah. Niatkan membaca agar kita dapatka ridhanya. Bukan membaca agar dapat menulis saja.

Perlu diingat pula, bahwa pengertian membaca tak terbatas pada membaca tulisan. Meneliti, mengamati dan berusaha memahami fenomena alam juga termasuk membaca. Menelaah perubahan-perubahan sosial juga berarti membaca. Mencerna apa yang terlihat di televisi juga dapat berarti membaca. Mengambil ibrah dari apa yang terdengar di radio juga berarti membaca. Banyak lagi kegiatan lain yang dapat kita masukkan ke dalam kegiatan “MEMBACA.” Itu semua akan berguna untuk menajamkan mata pena. Dengan banyak membaca, insya Allah karya-karya kita akan lebih BERTENAGA, MENGGIGIT, NENDANG, MENCERAHKAN, MENGGUGAH, MENGGERAKKAN. Pada akhirnya, semakin banyak manfaat dapat engkau sebarkan. Di akhirat nanti, pahala yang LUAR BIASA akan kita nikmati. Karena kita MEMBACA, juga MENULIS. Insya Allah...

Engkau pengen jadi penulis? Gabung saja dengan KMB (Kursus Menulis Buku).

Sabtu, 08 Maret 2014

Mencipta TOKOH

Berhubung besok pagi hendak berbagi tentang menulis dengan teman-teman FLP Pekalongan, kali ini pengen menulis tentang menulis. Selain itu, berhubung ada jaringan internet baru di rumahku – bisa hotspot-an oey – , aku nemu video-video menarik di Youtube tentang dunia tulis. Barusan aku nonton video tentang Character Development, jadi ingin berbagi di sini.

Okey, kali ini akan kubagi sedikit yang aku dapat tentang apa yang baru aku dapat, bagaimana membangun karakter tokoh-tokoh pada cerita yang kita tulis.

Sungguh tak cukup mengatakan bahwa Si Tini langsing, tinggi, kulitnya kuning langsat, berambut lurus, mata bulat, atau hidung bangir. Kita perlu menggali lebih dalam, detail, spesifik. Seperti bagaimana Tini mengerakkan-gerakkan tangannya ketika bicara, bagaimana Tini menata kerudungnya ketika hendak keluar rumah – perlu berapa lama dia, atau bagaimana dia alergi sama kucing. Nah, gali lebih dalam!

Untuk mendalami tokohmu, kau bisa buat banyak pertanyaan, seperti: Pakaian apa yang biasa Tini pakai ketika tidur? Bagaiaman setatus-status FBnya? Siapa tokoh yang paling dikaguminya? Atau mata pelajaran apa yang paling dia benci di sekolah? Nah, apa saja boleh engkau tanyakan untuk karakter buatanmu itu. Semakin detail engkau dapat menjawab, insya Allah semakin kuat engkau bangun karakternya.

Kemudian penting untuk menemukan character qualities.  Apa yang unik, penting dan wah dari karakter yang kamu cipta. Misalnya Si Tini orang yang sangat optimis dan begitu termotivasi untuk menulis novel best seller. Atau Si Tini orang yang sangat peduli terhadap nasib orang miskin. Dia mewakafkan diri dan waktunya membantu dua anak yatim yang menjadi tetangganya. Dia mati-matian menyekolahkan dan membiayai hidup dua anak itu, meski dia sendiri masih SMA. Nah, cari sesuatu yang wah dari karaktermu!

Selanjutnya bangun character value. Apa nilai dari tokoh yang engkau ciptakan? Cinta misalnya. Bagaimana si Tini jungkir-balik untuk mendapatkan cinta sejatinya. Atau nilainya adalah agama, bagaimana Si Tini harus mengusir rasa cinta yang belum saatnya, mengatasi hatinya yang patah-patah, demi tidak berdosa, demi tak melanggar aturan agama. Atau value-nya adalah popularitas. Begitu ingin Si Tini menjadi terkenal. Masuk TV menjadi hal yang paling diinginkan saat ini. Maka dia ikut audisi menyanyi, masak, ngelawak sampai audisi da’iyah. Semua dicoba, demi popularitas. Meski seringkali sesungguhnya dia wagu dan enggak banget mengikuti audisi tertentu. Baca al-Qur’an aja gak pernah, tapi ikut juga audisi dai’iyah.

Kau bisa membuat dua karakter kuat yang saling bertentangan pada satu tokoh. Misalnya si Tini sangat ingin terkenal, tapi dia juga sangat pemalu. Atau buat dua tokoh sahabat yang sangat berbeda. Si Tini, pendiam, pemalu, tapi optmis. Sementara Tina cerewetnya minta ampun, banyol mulu, tak tahu malu dan suka ngerjain orang. Nah, lihat bagaimana dua karakter itu bentrok. Akan ada banyak cerita...

Selanjutnya, gali, gali, gali dan gali lebih dalam. Seperti bagaimana si Tini tiba-tiba sedih setelah bahagaia. Apa yang dapat membuat dia benar-benar down? Apa yang biasa dia lakukan ketika sedih? Bagaimana Tini berusaha untuk bangkit dan semangat lagi? Atau hal-hal yang remeh. Bagaimana si Tini bangun tidur? Pakai waker, digedor-gedor pintu kamarnya sama si Ummi tiap pagi, diguyur air sama kakanya, terlambat sekolah terus tiap pagi karena baru bisa melek tiap kali sudah jam 6.30, atau justru tiap jam dua pagi sudah bangun untuk shalat tahajud.

Banyak sisi yang dapat kita gali. Karakter fisik, penampilan, cara berkomunikasi, sejarah hidup yang membuat tokoh itu unik, hubungannya dengan orang-orang, jalan pikirannya, ambisinya kelemahan-kelemahannya, apa yang berusaha untuk dia buang dari dirinya, karakter orang-orang di sekelilingnya, hobinya, musik kesukaannya, dan banyak lagi.

Satu hal yang juga penting, temukan momen di mana karakter tokoh yang kau cipta benar-benar muncul. Mislanya, ketika si Tini yang pengen banget populer, gagal pada tahap akhir sebelum masuk TV. Padahal sudah puluhan audisi dia ikuti dan selalu gagal pada tahap pertama. Kali ini, dia sudah melewati 9 tahap pada dance audition. Tinggal satu step lagi dia masuk TV. Kalau pada audisi tahap ke 10 dia lolos, audisi berikutnya disiarkan langsung di TV. Tapi dia tersandung, gagal lagi. Nah, apa yang terjadi pada Tini kemudian?





Senin, 03 Maret 2014

MENGGUNCANG dengan Tulisan

Para penentang itu terhukum. Kaisar Bhizatium telah memerintahkan pembantaian dan pengusiran terhadap Yahudi. Maka Yahudi bermigrasi ke berbagai penjuru dunia. Sebagian besarnya berimigrasi ke Amerika Serikat. Sebagian lainnya berimigrasi dan menetap di Kanada, Inggris, Australia dan Afrika Selatan. Sebagian ada pula yang menetap di Palestina.
Leon Pinsker pada tahun1882 menggulirkan ide ‘Tanah Air’ untuk kaum Yahudi lewat bukunya Auto-Emancipation. Maknanya dipahami sebagai ‘pendirian kembali’ tanah air Yahudi di Palestina atau Eretz-Israel. Kemudian muncul pula Theodore Herzl yang menggulirkan ide zionisme lewat bukunya Der Judenstaat (The Jewish State), yang terbit di Wina, Austria, pada 1896. Herzl memiliki dua pilihan lokasi tanah air, yaitu Argentina atau Palestina. Argentina, menurut Herzl, punya kondisi alam yang kaya, wilayah luas, populasi sedikit, dan cuaca sedang. Tapi, pilihan kemudian jatuh ke Palestina, bersandar pada Kitab Perjanjian Lama sebagai tanah yang dijanjikan (the promised land).
Selain itu Theodore Herzl juga menulis sebuah novel, Altneuland (Old New Land). Dua buku Herzl mengharu-biru dan menginspirasi kaum Yahudi. Maka semangat untuk mendirikan negara Yahudi di tanah Palestina menyebar luas. Bergelombang-gelombang kaum Yahudi kemudian berimigrasi kembali ke tanah Palestina. Populasi Yahudi di negeri Palestina pun meningkat drastis. Kini, kita tahu muslim Pelestina sedang tersudut, tak usai-usai perjuangan para mujahid sejati menjaga kesucian al-Aqsha, mempertahankan Palestina dari tangan Yahudi.
Engkau mungkin juga pernah mendengar tentang Il Principle. Mulanya Il Principle adalah surat yang ditulis Nicolo Machiavelli, seorang filsuf di Florence, Italia kepada junjungannya Lorenzo Demedici, penguasa Florence saat itu. Isi surat tersebut adalah petunjuk bagaimana cara mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara lengkap dengan sisi baik dan buruknya, dimana hati nurani dan moral dikesampingkan demi kekuasaan yang kokoh dan tak tergoyahkan. Hal ini lah yang membuat dia identik dengan pemerintahan yang kotor, licik dan penguasa diktator.
Bagi Machiavelli, politik adalah politik. Tak ada sangkut pautnya dengan moral agama dan hati nurani. Politik adalah bagaimana berkuasa dan mempertahankan kekuasaan tersebut. Maka dalam buku Il Principle yang dissusunnya, dia menulis suatu yang sangat membahayakan, bahwa penguasa yang baik adalah penguasa yang kejam dan tidak segan-segan bermain curang, menipu dalam kekuasaannya.
Meski kontroversial, Il Principle sangat populer dalam kalangan pemimpin pemimpin besar. Jangan berharap disebut seorang politikus kalau tidak kenal dengan Il Principle. Tersebut bahwa sederet nama besar seperti Napoleon Bonaparte, Stallin, Adolf hitler, dan Mussolini sangat lekat dengan buku tersebut. Malah ada yang mengatakan bahwa salah seorang yang pernah menjabat presiden di negeri ini juga penganut ajaran Machiavelli. Maka tak mengherankan kalau Robert B. Downs memasukkan Il Principle dalam daftar buku yang merubah dunia. Malah dia menempatkannya pada urutan teratas dalam bukunya Books that Changed The World
Banyak tulisan lain yang menginspirasi jutaan manusia, memunculkan peristiwa besar di dunia, atau bahkan mencipta peradaban. Revolusi Perancis dikompori oleh karya-karya J.J. Rousseau, Montesquieu, juga Voltaiere. Revolus Amerika Digerakkan oleh Declaration of Independent. Nazi Jerman bergerak dengan petunjuk buku Mein Kampf.  Revolusi Tiongkok berpedoman pada San Min  Chu I karya Dr. Sun Yat Sen. Sementara Karl Mark dengan Das Kapitalnya juga sangat mendorong revolusi Komunis. Lalu Adam Smith dengan The Wealt of Nation-nya yang disinyalir banyak dipengaruhi oleh karya Abu Ubaid, Al-Amwal, juga memberi dampak sangat besar bagi dunia, terutama terkait bidang ekonomi. Dan yang paling kita kenal, sebagaimana ditulis Mohammad al-Ghozali, bahwa perubahan-perubahan besar dalam masyarakat Islam bergerak di bawah dibimbingan Al-Qur’an. Kita tahu, bagaimana Rasulullah dengan bimbingan al-Qur’an sukses melakukan revolusi yang sangat besar terhadap tata kehidupan dunia.
Berkaitan dengan kekuatan ini, seorang politikus Amerika, Jhon Taylor pernah mengatakan bahwa pena adalah alat yang paling berbahaya dan jauh lebih tajam daripada pedang. Seorang novelis Inggris, Bulwer Lytton juga mengatakan bahwa dibawah kekuasaan orang-orang besar, pena lebih berbahaya daripada pedang. Mengapa demikian? Karena kekuatan pedang mungkin hanya bisa melukai tubuh, tapi kekuatan pena mampu mengobrak-abrik sejarah dan peradaban manusia.
Maka sungguh tak juga mengherankan jikalau Hasan al-Banna mengatakan; “Aku tidak ingin membuat buku, aku hanya ingin melahirkan penulis buku.”  Benar beliau tidak menulis buku, hanya khatbah-khatbahnya terbukukan, begitu pula surat-suratnya yang menjadi warisan sangat berharga bagi kita, Risalah Pergerakan. Akan tetapi gagasan-gagasannya membumi hingga kini. Maka uangkapannya benar, beliau telah melahirkan penulis-penulis buku. Saat ini entah berapa orang penulis yang menjadi kader Ikhwanul Muslimin, organisasi Islam yang didirikan Hasan al-Banna. Tentu saja, termasuk penulis-penulis kelas dunia seperti Yusuf al-Qardhawi, Muhammad al-Ghazali, Sayyid Qutb, juga Sayyid Sabiq. Engkau ingin jadi penerus mereka?

Pengen juga bisa mengguncang dunia? Jadilah PENULIS! Nah, engkau bisa memulai dengan bergabung di KMB (Kursus Menulis Buku).

Minggu, 02 Maret 2014

BENAR-BENAR Kaya

Yup, aktifitas menulis, apa lagi bagi mereka yang telah beranjak dari seorang PENULIS semata menjadi WRITERPRENEUR, insya Allah dapat benar-benar menjadi KAYA. Mudah-mudahan, pada lain kesempatan, kita dapat memperbincangkan tentang writerpreneurship ini. Sebagai gambaran, Toha Nasrudin, S.Ag,  mengaku hampir mencapai aset lima miliar dalam tiga tahun pertama menjadi writerpreneur. Dialah pemilik Mujahid Press. Mungkin engkau lebih mengenalnya dengan nama Abu Al-Ghifari, seorang penulis produktif yang menggeluti self publishing.
Benar, kita akan benar-benar kaya dengan menggeluti dunia tulis. Malah KAYA HARTA sebagaimana kita perbincangkan sebelum ini hanyalah SEBAGIAN KECIL dari kekayaan yang akan kita peroleh. Berikut ini di antara rupa-rupa kekayaan yang telah menunggu seorang penulis.
KAYA ILMU. Bila memiliki tabungan di bank, kita hanya dapat menarik sejumlah simpanan plus bagi hasil atau bunga. Kecuali ambil pembiayaan, itu lain perkara. Begitu pula ilmu, apa yang dapat diberikan, entah dengan lisan atau tulisan pastilah sebatas ilmu yang kita serap dari kehidupan, ditambah hasil kreatifitas otak. Yang pertama simpanan, yang kedua bagi hasil.
Sebab itu, seorang penulis mestinya adalah orang yang kaya ilmu. Bila tidak, maka sedikit sekali ia memberi pada pembaca. Seperti penulis buku ini, baru seperti ini yang dapat saya persembahkan. Akan tetapi mudah-mudahan dapat memberikan manfaat yang banyak.
Sekali lagi, seorang penulis mestinya adalah orang yang kaya ilmu. Dia seorang pembelajar sejati yang selalu meningkatkan pemahaman dan wawasan. Tak pernah berhenti. Maka berlimpah-limpah ilmu itu menggelegak dalam jiwa, seperti magma yang hendak menyembur. Lalu mengalirlah tulisan-tulisan yang mencerahkan, menghanyutkan dan memberi energi gerak. Mengajak untuk berpikir, merenung dan beramal.
Cobalah sesekali berkunjung ke kediaman penulis-penulis ternama, lalu mintalah ijin untuk memasuki ruang perpustakaan pribadinya. Mungkin engkau akan terpana. Berderet-deret buku dalam beberapa rak. Seperti perpustakaan umum saja. Inilah sebagian bukti, bahwa mereka adalah pembelajar sejati. Bacaannya DAHSYAT.
Sayangnya, penulis buku seperti saya ini, terkadang membaca hanya karena ingin menulis. Mencari referensi. Karena itu tulisan jadi kering akan makna. Memang, kadang masih enak dicerna, menarik dan laku keras juga, akan tetapi teramat sedikit ilmu, tiada menggerakkan, tiada memotivasi pembaca untuk beramal. Seperti krupuk, renyah dikunyah, tapi habis masuk ya sudah. Mudah-mudahan, buku dalam genggamanmu ini tiada demikian.
Nah, kalau benar ingin jadi penulis, jadilah PEMBELAJAR SEJATI, maka kau akan kaya ilmu.
KAYA AMAL DAN PAHALA. Dengan niat yang tepat, insya Allah pahala kita akan berlipat. Kita tahu, tulisan adalah sarana dakwah yang dahsyat. Bila berdakwah di mimbar-mimbar, maka hanya saat itulah ilmu kita tersampaikan dan sebatas bagi orang-orang yang hadir. Sedang dakwah dengan tulisan, LUAR BIASA, apa yang ditulis seorang ulama berabad lalu, kini masih dicetak dan dan terus dibaca orang.
Al-Jamie` al-Musnad as-Shahih al-Mukhtashar Min Umuri Rasulillah Saw  atau yang kita kenal sebagai Shahih Bukhari misalnya, sungguh betapa barakah. Imam al-Hafizh Amirul Mukminin Fi al-Hadits Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju`fi al-Bukhari atau kita sering menyebutnya Imam Bukhari telah menyusunnya sejak dulu, dulu sekali. Sangat teliti, teramat berhati-hati, hingga tiap kali Bukhari hendak memasukkan suatu hadits dalam kumpulan shahihnya, beliau terlebih dahulu mandi dan shalat dua raka’at. Kini, kitab Shahih Bukhari menjadi rujukan utama dalam hal hadits. Nama beliau tersebut dalam miliaran buku yang tersebar di seluruh dunia. Cobalah kau buka buku-buku keislaman, niscaya sedikit sekali buku yang tiada menyebut nama beliau. Malah buku seperti yang ada pada genggamanmu ini saja juga memuat hadits yang mencomot dari kumpulan shahihnya. Maka pada setiap amal manusia dengan merujuk hadits yang bersumber dari kitab tersebut, insya Allah, Bukhari mendapatkan bagian dari pahalanya.
Nah, sungguh potensi yang luar biasa untuk memperoleh pahala. Apa lagi bila apa yang kita tuliskan adalah amal shalih yang belum dilakukan orang. Kitalah pelopornya. Maka hal ini dapat menjadi sarana penyebaran sunnah-hasanah. Kita sempat berbincang, bahwa menjadi pelopor suatu sunnah-hasanah berarti deposit pahala.’Bagi hasil’ akan terus mengalir buat kita dari orang-orang yang melakukan amalan sama. Maka selalulah untuk menuliskan kebaikan dan kebenaran. Lalu BERKREASILAH. Insya Allah, selalu ada peluang untuk mengalirkan pahala yang kelak memperberat timbangan kebaikan kita di yaumul hisab.
Oh iya, jangan lupa, jadikan tulisan kita sendiri sebagai motivasi untuk semakin memperbaiki diri dan mamaksimalkan amal.
KAYA PENGALAMAN. Menjadi penulis, berarti juga harus siap menjadi pembicara. Engkau akan sering diundang untuk mengisi bedah buku, kajian, seminar atau bahkan training kepenulisan. Tak hanya di kotamu, tapi di seluruh penjuru negeri ini. Bahkan bila namamu sebagai penuis telah benar-benar berkibar, boleh jadi engkau akan keliling dunia. Berbekal buku-buku yang telah kau tulis. Tentu saja, panitia yang akan membiayai perjalanmu. Nah, jalan-jalan gratis, siapa tak suka.
Itu baru sebagian dari pengalaman baru yang akan kau jalani. Selain itu. menjadi penulis berarti harus siap juga dianggap lebih oleh orang lain. Sebab itu kau mungkin akan ditunjuk untuk memimpin sebuah organisasi tertentu, sering dimintai pendapat dan sesekali harus melayani curhat, diminta secara khusus untuk mengadakan buletin atau tulisan-tulisan tertentu dan sebagainya. Pengalaman pahit tentu kadang datang juga. Seperti ketika buku yang kau tulis ternyata dianggap sampah oleh orang yang memang lebih banyak ilmu atau hanya oleh orang yang sok lebih tahu. It’s Okey, hargai pengalaman itu.
KAYA JARINGAN. Berkaitan dengan apa yang baru saja kita perbincangkan, maka kita juga akan kaya jaringan. Bertambah sahabat, bertambah saudara, bertambah penggemar, bertambah guru, bertambah kader dan sebagainya. Belum lagi sekarang banyak jejaring sosial di internet. Kita dapat memanfaatkannya untuk lebih dekat lagi dengan para penikmat buku kita, dengan sesama penulis, atau siapa saja. Di situ kita dapat berbagi dan saling memberi masukan. Sekalian promosi buku-buku kita yang telah terbit, juga meminta masukan dan pertimbangan.
Bila kita mampu memanfaatkan jaringan ini dengan tepat, maka kapasitas keilmuan kita dengan sendirinya akan meningkat. Maka seperti lingkaran, bertambahnya JARINGAN membuahkan ILMU. Dengan ilmu kita dapat memaksimalkan AMAL shalih yang akan mendatangkan PAHALA melimpah. Kemudian AMAL-AMAL SHALIH membuat kita semakin kaya akan PENGALAMAN. Pengalaman-pengalaman hidup bermasyarakat dalam mengemban tugas mulia sebagai seorang da’i, juga khalifah di muka bumi, akan membuat kita semakin kaya akan JARINGAN.

Nah kan, jadi KAYA RAYA. Kamu juga pengen? Gabung saja di KMB (Kursus Menulis Buku).

Rabu, 26 Februari 2014

Benarkah Bisa KAYA?

Tiada keraguan lagi. Sejarah menjadi bukti. Berikut ini beberapa catatan tentang mereka yang KAYA ’gara-gara’ menulis buku. Data ini mungkin kurang tepat atau sudah tidak up to date, akan tetapi dapat menjadi gambaran tentang penghasilan penulis-penulis tersohor di negeri ini.
Andrea Hirata, dari Novel Laskar Pelangi beroleh lebih dari 3 Miliar, dari Novel Sang Pemimpi 760 juta, dari Edensor 546 juta. Ini data yang sudah saya peroleh. Bila mengisi talkshow atau seminar tentang Laskar Pelangi, manajemen Andrea dibayar 35 juta perjamnya. Tentu saja, ada bagian besar untuk dia yang tampil. Belum dari Novel Maryamah Karpov dan Dwi Logi Padang Bulan. Belum dari edisi Internasional Tetralogi Laskar Pelangi yang kini telah beredar di berbagai negara. Belum dari film Laskar Pelangi - kabarnya royalti dari film ini buat Andrea sekitar 350 juta- dan Sang Pemimpi yang sukses. Belum lagi bonus ditawari beasiswa kuliah sastra di The University of Lowa, Amerika.
Habiburrahman El-Shirazy atau yang akrab kita sebut dengan Kang Abik, dari Novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) saja beroleh royalti lebih dari 1, 5 Miliar. Belum dari Dwi Logi Ketika Cinta Bertasbih (KCB), Bumi Cinta, Di Atas Sajadah Cinta dan buku-buku lainnya. Belum dari film AAC dan KCB yang juga sukses. Belum dari sinetron yang juga mengankat novelnya, KCB. Insya Allah rezki yang barakah buat beliau. Kabarnya royalti Kang Abik banyak digunakan untuk mengembangkan pesantren. Malah sampai buku ini saya tulis, beliau baru hendak membangun rumah sendiri, masih tinggal di rumah mertua.
Mohammad Fauzil Adhim, menurut pengakuannya, dari buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah saja, beliau beroleh royalti rata-rata perbulan 15 sampai dengan 25 juta. Belum dari buku Merindukan Pernikahan Barakah, Agar Cinta Bersemi Indah, Saatnya Untuk Menikah, Kado Pernikahan Untuk Istriku, Dunia Kata, Inspiring Words For Writer, Membuat Anak Gila Membaca, Positive Parenting, Saat Berharga Untuk Anak Kita dan buku-buku beliau lainnya yang bertebaran.
Asma Nadia, menurut pengakuan kakanya yang juga penulis kenamaan, memperoleh royalti pertiga bulan tak kurang dari 30 juta. Penghasilan sebulan dari royalti saja berarti sudah 10 juta. Belum dari Asma Nadia Publishing House, dari honor menjadi pembicara dll. Sang kakak sendiri, Helvy Tiana Rosa pernah dinobatkan sebagai salah satu di antara lima penulis terkaya di Indonesia dengan penghasilan mencapai 100 juta oleh majalah Adil. Sementara anaknya, Abdurrahman Faiz memperoleh penghasilan rata-rata 3 juta perbulan dari satu buku. Belum buku-buku lainnya.
Ada juga Pipit Senja, mengaku memperoleh royalti rata-rata 10 juta per bulan atau serendah-rendahnya 5 juta perbulan. Kemudian Hilman ”Lupus” Hariwijaya yang memperoleh royalti rata-rata 13 juta perbulan dari satu judul buku. Moh Rifa’i dari buku Tuntunan Shalat-nya yang tampilannya dari dulu begitu-begitu saja itu beroleh royalti rata-rata 8 juta perbulan. Sudah terbit sejak tahun 1976 loh. Kalikan saja sampai sekarang.
Nah, cukup ya datanya. Itu baru di negeri sendiri, belum royalti penulis-penulis tersohor dari negeri jauh-jauh sana yang bukunya diterbitkan di mana-mana, termasuk di negeri kita. Yang sangat mashur, J.K. Rowling si penyihir wanita yang mampu membius miliaran manusia dengan Harry Potter-nya itu bisa lebih kaya dari Ratu Inggris. Entah penghasilan Setven R. Covey, Jhon C. Maxwell, Bobby de Potter, Stephen King, John Grisham, Dan Brown, atau Agatha Cristie. Yang jelas pasti banyak.
Pertanyaannya; engkau sendiri bagaimana? Mau jadi KAYA dengan MENULIS atau hanya ingin menjadikan aktifitas menulis sebagai hobi yang belum tentu mendatangkan dana?
Info ringan saja, saat ini rata-rata royalti untuk penulis adalah 10% dari harga buku. Ada yang kurang, tapi ada juga yang lebih, hingga 12,5%. Ketika saya sebutkan prosentase ini, orang seringkali merespon; ”Kecil ya?”
Benar, memang kelihatan kecil, tapi kali berapa dulu. Kalau hanya cetakan pertama saja yang laku, sejumlah 3000 eksemplar – rata-rata cetak pertama minimal saat ini – dengan harga bandrol buku 40 ribu, maka royalti yang akan diterima adalah 10% x 40.000 x 3000. Lumayan kan, 12 juta?
Itu cetakan pertama. Kalau laku dan terus laku, cetak ulang dan terus cetak ulang. Hingga terjual jutaan eksemplar. Kalikan saja sendiri!

Jadi, jawaban dari pertanyaan pada judul tulisan ini adalah; BENAR, kita BENAR-BENAR bisa kaya dengan menulis.

Selasa, 25 Februari 2014

Miris Jadi PENULIS

PENULIS, sungguh profesi bergengsi, tapi terkadang juga miris. Miris? Iya miris dan kadang membuatku meringis, bukan karena sakit, tapi pengen menangis kegelian saja. Mengapa?
Okeh, saya akan menjawab pertanyaan ini dengan beberapa jawaban. Pertama, miris karena  memutuskan untuk menjadi penulis berarti kita harus siap menanggung resikonya; menjadi KAYA, atau sebaliknya.
Banyak penulis yang menjadi kaya sebab karier kepenulisannya. Banyak juga yang sudah kaya, baru kemudian menulis buku kita-kiat menjadi kaya. Tak kalah banyaknya, sudah cukup lama jadi penulis, tapi tidak kaya-kaya. Nah, miris bagi penulis yang memasuki golongan terakhir, mudah-mudahan itu bukan anda. Tapi jangan khawatir, karena peluang untuk menjadi KAYA dengan MENULIS sungguh lebih MENGGODA. Tinggal bagaimana kita menghasilkan karya-karya yang FANTASTIS dan laris MANIS. Insya Allah jadi kaya; kaya ilmu, kaya relasi, kaya amal, kaya harta dan kaya-kaya lainnya. Mau? Nanti kita bicarakan ya.
Kedua, miris pada saat-saat diremehkan, tak dianggap, atau lebih tepatnya tak dimengerti. Sahabat saya, penulis juga, Dwi Suwiknyo namanya, pernah menuturkan pengalamannya saat petugas survey kependudukan mendatangi kediamannya. Saat Dwi ditanya soal pekerjaannya, dia menjawab apa adanya; ”Saya penulis.” Lalu apa respon petugas survey itu? ”Loh mas, di form ini tidak ada profesi PENULIS”
Hal semisal ini benar-benar membuatku meringis. Waktu itu kami - aku dan istriku maksudnya - sedang wawancara dengan pegawai sebuah bank, ceritanya mau ngambil KPR. Tentu, aku juga ditanya soal pekerjaan dan penghasilan. Saat aku bilang ”PENULIS,” pegawai bank itu bengong. Nampaknya memang tak ada yang namanya pekerjaan menjadi penulis di benaknya. Miris lagi ketika ditanya soal slip gaji. Lha, nggak ada je, biasanya tranfer-transter aja beres.
Rupanya pekerjaanku sama sekali tidak dianggap. Ketika hendak penandatangan kontrak kredit, ternyata kami harus membayar uang muka lebih banyak dari pada nasabah lain yang mengambil kredit serupa. Dugaanku tadi, aku tidak punya slip gaji. Gak jelas, sebenarnya punya penghasilan apa tidak. Miris.
Ketiga, miris bila naskah tak kunjung diterima. Ini pengalaman banyak penulis, tapi sekali lagi, mudah-mudahan bukan anda. Memang, seperti seorang pemuda yang melamar gadis, atau cowok narsis yang menembak cewek manis, menjadi penulis juga harus siap bila naskahnya DITOLAK. Bahkan seorang penulis tersohor seperti Joni Ariadinata pernah ratusan kali naskahnya tidak diterima. Benar, ditolak itu biasa. Nah, ’miris’ kan jadi penulis?
Anehnya, saat ini banyak sekali orang yang pengen jadi orang miris. Termasuk engkau yang baca buku ini ya? Tidak mengapa, berbagialah orang-orang yang miris, sebab dengan miris itulah engkau punya peluang untuk benar-benar menjadi PENULIS.
Oia, yang lebih miris lagi – ini kata Salim A. Fillah – adalah penulis yang tulisannya menginspirasi kejahatan dan keburukan. Berantai-rantai dosa ditambahkan, bertimbun-timbun ke catatan amalnya. Akan berteriak dia kelak di hadapan Allah: "Ya Allaah ini dosa siapaaaaaaaaaaaaaa?"

Na’udzubullahi min dzaalik, untuk yang satu ini jangan pernah terjadi pada kita. Lebih baik tidak jadi penulis, dari pada tersohor karena karier kepenulisan, tapi harus terjun ke neraka pada akhirnya. Sekali lagi na’udzu billah. Mari kita menjauh dari yang demikian itu, kita mulai niat yang tepat.