Selasa, 09 Januari 2018

Hidup adalah Kenangan



Menurutku.., iya, memang hanya menurutku, sebagian besar hidup kita ini adalah kenangan. Terutama hidupku sendiri. Sebab sebagian besar hal yang kualami memang telah berlalu, panjang, sedari keluar dari rahim ibunda, hingga sedetik lalu. Sedang saat ini, akan segera pula berlalu, kemudian tumbuh menjadi kenangan. Sementara esok, masih belum pasti adanya. Maka, yang ada adalah kenangan dan kenangan.
Dan tahukah kamu, sebagian besar kenangan itu selalu bicara tentang kamu. Ya kamu. Hanya kamu. Ah, nanti, seluruh isi buku ini, sepertinya juga akan terus bicara tentang kamu. Kamu yang hilang. Kamu yang jadi kenangan. Iya kamu adalah kenangan itu. Sebab aku mencintai kenangan, maka aku juga mencintaimu. Sebab aku mencintaimu, aku mencintai kenangan.
Aku.., iya hanya aku – tak mengapa kan ngomongin diri sendiri? – adalah pencinta kenangan, pencintamu. Dalam sendiri, ketika larut malam, saat turun hujan, anganku tak berhenti melayang, ke sana ke mari menyusuri kenangan, meniti jalan-jalan yang pernah kita lewati bersama.
Berselancar di lautan kenangan, seringkali buat bibir ini tersenyum, meski tak jarang hendak menjungkalkankanku karena siksanya. Kamu tahu, kehilanganmu adalah siksaan terberat yang pernah kurasai? Kadang aku juga malu. Malu akan diriku yang dulu. Malu akan tingkahku yang lalu-lalu. Bahkan aku malu karena sampai kehilanganmu. Kamu yang indah itu.
Sementara baris-baris kalimat ini kutulis ketika hujan menyapa. Tanpa petir dan geledeknya, suasana saat ini sungguh syahdu, mengajakku bergegas, membuat lubang dan lorong angan, menuju dunia kenangan. Dunia kamu. Aku akan berpetualang ke sana. Sebab aku tahu, kamu akan selalu ada di sana. Meski tidak sedang menungguku.
Andai aku bisa pergi ke masa lalu... Ya, hanya andai. Sebab bila menjadi kenyataan, itu pasti hanya dalam film, dan film bukan kenyataan. Kenyataannya, aku suka berandai andai. Andaianku kali ini, tentang kembali ke masa lalu. Bukan back to the future, sebab kamu juga tahu, future itu kan masa depan.
Andai andaianku itu jadi kenyataan, barangkali aku akan lebih sering pergi ke masa lalu, dari pada menjalani hari ini. Bukankan telah kukatakan tadi, bahwa aku ini adalah pencinta kenangan. Sedang kenangan itu, hampir seluruhnya adalah kamu. Meski hidupku terasa hari ini dan aku berjuang untuk hari esok, tapi kenangan demi kenangan itu sungguh sesuatu. Kenangalah yang membuatku hari ini merasa lebih hidup. Kenganganlah yang tetap membuatku berdiri untuk menyongsong hari esok.
Kini aku sadar, bila dapat memaknai masa lalu dengan lebih mendalam, seringkali kita dapat berpetualang ke hutan-hutan yang lebih lebat, gunung-gunung yang lebih menjulang, menyusur sungai yang lebih deras arusnya, hingga samudera yang maha luas. Segala sesuatunya menjadi lebih dalam, lebih tinggi, lebih lapang, bahkan bila dibanding saat-saat peristiwa itu berlaku.
Seperti ketika perjumpaan dengan seseoarang, dulu terasa biasa saja. Orang itu bukan siapa-siapa dalam hidup ini. Hadir, pergi, lalu segera dilupakan. Akan tetapi ketika masa berganti, pertemuan itu, orang itu, kepergiannya, ternyata menjadi bermakna. Mengenang senyumnya membuatku kembali tersenyum. Mengenang saat-saat bersamanya menghadirkan bahagia. Lalu ketika teringat kepergianya, terasa betul ada yang hilang. Ah, aku pernah merasainya, kehilangan itu. Meski seseorang itu bukan kamu, maaf, aku juga sempat kehilangan dia. Tapi kehilanganku akan dirimu, rasanya kini telah menutup semua kehilangan. Terlalu besar, terlalu luas, terlalu dalam.
Atau waktu kecil, ketika itu aku, kamu dan kawan satu sekolahan jalan-jalan menyusuri perbukitan dekat kampong. Ah, dulu rasanya sungguh biasa. Tiada yang spesial. Akan tetapi setelah musim berganti musim, tahun demi tahun berlalu, pengalaman sederhana itu ternyata menjadi arus kenangan yang begitu deras menghayutkan. Merenunginya, memaknaiknya, membuatku ingin kembali ke sana. Ingin kecil lagi. Ingin bersama-sama lagi.

Selasa, 25 April 2017

Ini Loh Bedanya Sinetron Indonesia, Drama Korea dan Kisah Yusuf

Dia. Si Bawang Merah itu. Entah apa sebabnya dia begitu. Jahat! Padahal, dalam sinetron, pemeran Pawang Merah tak kalah cantik dengan si Bawang Putih ya? Kecantikan Bawang Putih sepestinya tak harus membuatnya iri dan mendengki sedemikian rupa. Sedang si Bawang Putih itu, sabar gak ketulungan, menerima setiap kejahatan si Bawang Merah dengan penuh lapang dada. Meski nangis-nangis juga. Dia  gak bisa berbuat apa-apa untuk menghindar dari ulah buruk Bawang Merah dan krunya.
Sesungguhnya aku tak pernah mengikuti alur cerita Bawang Merah bawang putih. Barangkali peggambaranku di atas kurang tepat. Akan tetapi itulah yang terekam di ingatan. Sempat sih tak sengaja aku melihat beberapa menit sinetronya dulu.
Si jahat sungguh jahat, si baik sungguh baik. Tiba-tiba saja sudah begitu. Itu yang kulihat dalam sinetron. Sinetron-sinetron lain, tanpa Bawag Merah Bawang Putih pun seringkali menghadirkan kisah-kisah serupa. Adanya si jahat yang begitu jahat, juga si baik yang tak berdaya. Ini jadi salah satu sebab aku sama sekali tak tertarik melihat sinetron.
Beda. Sungguh beda dengan salah satu drama seri Korea yang sempat kuikuti alurnya. Dalam versi Indonesia berjudul Dendam Cinta. Entah judul aslinya. Hingga kini aku masih penasaran dengan endingnya yang tak sempat kutonton.  Drama Korean yang kurang populer saat itu. Kalah jauh lah sama Meteor Garden yang digemari cewek-cewek jaman segitu. Kalau yang satu itu (Meteor Garden), seepisode pun aku tak pernah mengikuti.
Nah, kalau Dendam Cinta sebuah aplikasi, aku kan memberinya bintang lima. Tabik. Aku sungguh terkesan. Apa yang menarik. Dalam drama korea yang satu ini, sama sekali tak ada tokoh jahat. Seluruhnya orang baik. Akan tetapi konflik terbangun begitu apik. Malah tokoh utamalah yang mula-mula berbuat kesalahan. Lalu diikuti kesalahan-kesalahan tokoh lain yang membuat hubungan dan kehidupan jadi rumit. Sekali lagi tak ada yang jahat dalam drama berseri itu. Hanya saja, kumpulan orang-orang baik pun dapat saling menyakiti, meski tak disengaja. Orang-orang baik pun berkonflik. Tak butuh seorang Bawang Merah untuk membuat kehidupan begitu rumit, tak perlu kejahatan Bawang Merah untuk seorang baik mengalami peristiwa-peristiwa yang sungguh menyesakkan dada.
Satu hal yang membuat kesanku begitu positif akan drama Korea Dendam Cinta itu, cerita mengalir begitu lembut. Nampak proses panjang dari orang-orang yang saling mengasihi, tapi karena banyak peristiwa, pada akhirnya saling benci, saling dendam. Meski rasa cinta tak begitu saja menghilang. Nampak sebab-sebab yang kuat, mengapa seorang yang dulu selalu berbuat baik kini melakukan hal-hal yang menyakiti.
Sekali lagi, tak butuh seorang Bawang Merah untuk membuat hidup kita rumit, juga hadirnya duka mendalam dan sesak dada yang menghimpit. Pun dalam kehidupan nyata ini. Saat ini kejahatan begitu rupa-rupa ragamnya. Akan tetapi sesungguhnya, setidaknya dalam lingkup kehidupanku, jauh lebih banyak kumpulan orang-orang baik. Begitupun, kalau sedang terjadi konflik, rumit juga.
Dalam kisah terbaik sepanjang zaman, yang Allah penuturnya, dan Nabi tokoh utamanya – betul kisah Nabi Yusuf – terdapat begitu melimpah pelajaran hidup. Juga pelajaran bagi aktivis cerita; novelis, pendongen dan semacamnya. Kita dapati bagaimana Ya’qub tak dapat menghindari hadirnya kedengkian saudara-saudara Yusuf. Setelah memiliki sepuluh anak yang beranjak dewasa, Ya’qub menikah lagi. Istrinya kemudian melahirnya Yusuf dan adiknya, Bunyamin. Akan tetapi istri Ya’qub kemudian meninggal.
Nabi Ya’qub berusaha menutupi ketidak hadiran seorang ibu dengan memberikan sebesar-besar kasih sayang. Niat baik, tindakan pun benar. Akan tetai rupanya hal itu kemudian menghadirkan kecemburuan oleh saudara-saudara Yusuf yang sepuluh. Hingga akhirnya mereka bersekongkol untuk menjauhkan Yusuf. Ada yang mengusulkan pembunuhan, lalu tertolak. Hingga akhirnya Yusuf dibuang ke sumur agar dipungut orang. Jadi ada proses, mengapa saudara sendiri bisa jadi begitu membenci Yusuf. Tidak ujug-ujug, benci dari sononya. Jahat dari awal.
Itu satu pelajaran dalam kisah Nabi Yusuf. Khikmah lain begitu melimpah. Bahkan setiap baris kalimat dalam Surah Yusuf mengandung begitu melimpah pelajaran hidup. Semoga kita termasuk orang-orang yang mengambil pelajaran.

Kesimpulannya, dalam kehidupan nyata, juga dalam cerita, sesungguhnya tak butuh Bawang Merah untuk hadirnya drama. 

Senin, 24 April 2017

di Pameran Buku


Entah, ini untuk kali keberapa Bulan April tahun 2017 aku mengisi di Pameran buku. Yang jelas, tiap ada Pameran Buku dan di situ ada panggungnya, aku selalu tampil. Barangkali sejak tahun 2008-an, ketika pertama kali di Pemalang ada Pameran Buku.

Malah dulu di Pameran Buku Kabupaten Tetangga, aku juga sering mengisi acara Talkshow Kepenulisan. Mulai dari Pekalongan, Batang, Tegal hingga Brebes.

Patnerku kala itu yang sering adalah Mba Yossi Mailani dan Mba Ummu Sulaim dari Pekalongan. Kami sering sepagung bareng.

Selanjutnya, aku lebih sering tampil bersama Siti Untari. Terkadang sama Pak Eko Hadi Kusuma. Setidaknya talkshow-talkshow di Pameran Buku itu menjadi bukti bahwa di Pemalang masih Eksis Forum Lingkar Pena. Juga berarti, aku yang masih seperti ini, terakui sebagai seorang penulis. Ya, PENULIS. 


Terima kasih untuk Pak Widodo Saputro dengan PT Netral Organizernya yang selalu mengajak kami meramaikan Pameran Bukunya.



Aku, Menulis dan FLP

Tahun 2003 seingatku, di akhir masa kuliah, diajak teman aku bergabung menjadi anggota FLP Yogyakarta. Waktu itu masih jamannya Galang Lufityanto, Ganjar Widhiyoga, Jazimah Al-Muhyi, Hara Hope dan lain-lain yang aku sudah lupa. Sekedar ikut-ikutan saja, biar ada kegiatan. Tapi aku senang mengikutinya, setidaknya aku punya teman-teman baru. Menulis jelas bukan duniaku waktu itu. Bahkan aku kenal baca buku saja sewaktu kuliah. Dari SD hingga SMK tak kenal buku kecuali buku pelajaran. Nah menulis…, aih.
 Ah, suatu sore di pertemuan rutin FLP Yogyakarta, pengurus memberi tugas kepada seluruh anggota untuk membuat tulisan bebas. Ya, bebas sebebas-bebasnya. Akan tetapi aku bingung mau nulis apa. Hingga mendekati dead line waktu, aku pun menulis, kira-kira begini. “Aku sedang mengikut pertemuan Forum Lingkar Pena Yogyakarta. Panitia memberiku tugas menulis bebas. Tapi aku bingung mau nulis apa. Ya sudah, aku tulis ini saja.”
Ya, begitu, hanya begitu. Betapa lugunya. Betapa aku tak bisa nulis. Di lain kesempatan, giliran karyaku, sebuah cerpen dibedah. Ah, hancur. Dibantai aku. Juelek banget.., barangkali itu pikir teman-teman. Tak mengapa, sebab memang waktu itu aku sama sekali tak berniat jadi penulis. Tiada bakat sedikit pun, pikirku. Memang, hingga hampir lulus kuliah itu, aku belum tahu apa bakatku.
Waktu berlalu. Aku lulus kuliah, kerja.  Aku semakin jarang mengikuti pertemuan rutin FLP. Hingga tidak sama sekali. Menulis bukan duniaku.
Terus bagaimana ceritanya aku bisa jadi penulis? Begini. Tahun 2005, aku resign dari sebuah BMT, koperasi syariah terbesar di Indonesia kala itu. Sebabnya, aku dan kakak berencana membuka rental komputer.  Kami telah membeli beberapa komputer, akan tetapi tempat usaha belum tersedia. Kakak sudah memesan tempat kontrakan, akan tetapi kami masih harus menunggu beberapa waktu, sebab tempat usaha itu masih ditempati. Padahal aku terlanjur resign.
Tiada kegiatan. Bingung mau apa. Ada komputer. Nulis.
Ya, aku menulis. Serius kali ini. Tersemangati oleh kakak kelas di kampus yang katanya sudah menerbitkan buku, aku jadi pengen. Maka aku nulis buku. Ya, nulis buku. Tidak nulis cerpen seperti waktu ikut FLP. Tidak nulis artikel untuk Koran atau majalah. Hampir tiap hari aku menulis. Ngebut, sehari bisa sepuluhan halaman. Sekitar dua pekan, satu naskah buku kelar.
Naskah itu kubawa ke penerbit, Navila group yang kantor Jl. Kaliurang, mendekat ke Merapi. Aku ketemu kakak tingkatku di kampus yang telah menerbitkan buku itu. Solichul Hadi namanya. Dia menjabat sebagai manager sekaligus senior editor di penerbit tersebut. Naskah kuberikan padanya.  Langsung dikopi ke komputer, langsung dibaca, dan langsung…
DITOLAK.
Itu sebuah pengalaman. Dan pengalaman adalah pelajaran. Kata Kak Solichul Hadi, tulisanku bahasanya terlalu kaku, tidak menarik. Aku tak menyerah, nulis lagi, ngebut lagi. Sehari masih bisa sepuluhan halaman. Kali ini dengan bahasa yang rebih ringan, lebih renyah. Dua pekan, satu naskah buku hampir kelar. Tak sabar aku. Kubawa naskah baru itu ke peberbit yang sama. Kembali aku bertemu dengan Solichul Hadi. Naskahku di kopi. Sayangnya kali ini tak bisa langsung dibaca. Barangkali karena lagi sibuk, atau berpikir tulisanku pasti tak bermutu, sudah ada pengalaman sebelumnya.
Aku pun tak berharap banyak. Tujuanku terutama adalah untuk mendapat masukan, tentang naskahku yang baru. Aku tak sabar untuk mendapatkan kabar tentang naskahku itu. Ingin dapat masukan dari penerbit. Dua pekan kira-kira setelah kukirimkan naskah itu, aku menelpon peberbit. Kak Solichul Hadi juga yang mengangkat. Mengesampingkan rasa malu aku pun bertanya: “Kak, gimana naskahku?”
Sekali lagi, aku hanya ingin mendapat masukan tentang tulisanku yang baru. Ingin bisa menulis lebih baik. Barangkali kelak, aku jadi penulis beneran. Barangkali tulis-menulis akan menjadi duniaku. Lalu apa jawaban Kak Solichul Hadi? 
“Oh, naskamu sudah diterima. Insya Allah, nanti sekitar dua tiga bulan bisa terbit.”
Jreng!!!
“Hidup Kaya Raya Mati Masuk Surga,” keren juga kan judul buku pertamaku. Tentu saja aku sama sekali belum kaya raya, apa lagi masuk surga. Akan tetapi itu sebuah cita-cita. Covernya asyik, ilustrasi bikinan Firman yang kelak menjadi temanku, bahkan ngontrak bersama di satu rumah.
Dapat menerbitkan buku rasanya sungguh luar biasa. Seperti mimpi. Kubuka lagi-kubuka lagi buku bersampul merah dengan gambar orang berleha-leha itu. Ini bukuku. Keren.., aku penulis. Kubaca berulang, meski aku sendiri yang menulis, cukup hapal apa isinya. Lalu kala honor menulis pertama kali dapat kupegang. Ah, bahagia. Uang terbanyak yang sempat aku pegang kala itu.
Terbit satu buku membuat semangat menulisku makin membara. Beku berikutnya kurancang, kutulis, makin ngebut. Dua pekan kemudian satu naskah buku kembali rampung kugarap. Kuberikan naskah itu ke Kak Solichul Hadi. Cukup lama aku tak mendapat kabar naskahku. Sementara aku mulai sibuk mengurusi rental komputer yang sudah buka. Tapi kemudian Kak Solichul Hadi mengabarkan, bahwa dia berencana menerbitkan bukuku itu sendiri, bikin penerbitan sendiri. Betul, selang dua atau tiga bulan, buku keduaku terbit, “The Power of Smile.”  Hasyiik…!
Sebab telah menerbitkan buku itu, aku jadi PD untuk bergabung lagi degan FLP. Beberapa kali aku sempat ikut lagi pertemua FLP Yogyakarta di Balerung UGM sayap selatan. Di situ aku kenal Mas Ferry Muhammad, seorang penulis yang punya penerbitkan buku. Dua naskah buku yang telah kutulis kuserahkan padanya. Beberapa waktu kemudian dia mengabarkan bahwa akan menerbitkan salah satu naskahku. Ah, luar biasa. Cukup lama proses penerbitannya. Aku bersabar. Sempat Mas Ferry mengajakku ke percetakan, lalu memberikan setting buku itu sebelum dicetak. Dan ketika buku ketigaku benar-benar terbit, aku semakin yakin, bahwa aku memang bisa menulis, he.
Beberapa pihak pun mulai mengenalku sebagai penulis buku. Sempat aku diundang beberapa pihak untuk bedah buku. Selanjutnya, aku harus belajar ngomong. Ya, ngomong. Sebab aslinya aku ini pendiam. Jarang-jarang bicara. Kalau pun bicara, suaraku lirih, nyaris tak terdengar. Memang, dulunya aku pemalu, sangat pemalu. Akan tetapi, setelah menerbitkan buku, aku jadi lebih PD bicara di depan publik. Meski seringkali aku harus latihan dan mempersiapkan betul-betul apa yang hendak kusampaikan ketika mengisi bedah buku, kajian ataupun training.
Karier kepenulisanku sedikit naik setelah buku keempatku terbit. “Change Now! Jurus Dahsyat Muslim Huebat!” diterbitkan BookMagz Pro-U Media. Ya, Pro-U, penerbit keren di Jogja itu. Setelah buku ke empat itu terbit, aku jadi lebih sering diminta jadi pembicara. Entah untuk bedah buku, training kepenulisan atau yang lainnya. Rasanya, aku benar-benar jadi penulis.
Awal tahun 2007 aku menikah, lalu pindah ke Pemalang, tanpa pekerjaan. Satu yang kubisa, menulis. Maka itu yang aku lakukan. Setahun kemudian aku mulai bekerja di SDIT Buah Hati, memulai karier sebagai TU. Kemudian menjadi guru PAI, TIK, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, hingga Waka Kesiswaan dan terakhir Waka Kurikulum. Bersama itu, beberapa bukuku terbit. Ada True Friend, Muslim Tangguh, Unlimited Learning, Journey of Life…
Di sisi lain, seorang teman menggandengku untuk mendirikan FLP Cabang Pemalang. Pak Prapto namanya. Kabarnya beberapa artikelnya pernah dimuat di Koran. Tentu saja aku setuju, sebab menulis memang telah menjadi duniaku. Aku pun kontak-kontak Mba Izzatul Jannah, ketua FLP Jawa Tengah kala itu. Bersama PAKAR; Pusat Kajian Remaja, akhirnya FLP Cabang Pemalang Lounching. Kali itu sempat menghadirkan Afifah Afra.
Mula-mula kegiatan rutin FLP Pemalang diikuti cukup banyak peserta, akan tetapi semakin surut dan surut. Malah Pak Prapto, sang ketua juga mulai kurang aktif. Dan ketika akhir Muscab, aku menjadi ketua, anggota FLP Cabang Pemalang tersisa beberapa saja. Apalah lagi pengurusnya.
Sempat aku merasa berjuang sendiri di FLP Cabang Pemalang. Sebab entah untuk berapa lama, aku memang mengurusinya sendirian. Aku merencanakan sendiri kegiatannya, lalu mengsms sebanyak-banyak nomor HP untuk ikut kegiatan, pada hari H, aku juga yang mengisi. Hal itu berlangsung untuk beberapa lama.
Untunglah, kemudian aku menemukan beberapa prajurit setia. Ada Siti Untari, Santi Widiyastuti, Alfiyaturrahmah, Yani Noor Wijayanti, juga Desi Lisnasari. Meski aggota FLP tak banyak, tapi kegiatan rutin berjalan. Sempat juga mengadakan talkshow dan pelatihan kepenulisan.
Setelah menjabat ketua untuk beberapa lama, tiba saatnya Muscab lagi. Siti Untari terpilih menjadi ketua FLP Cabang Pemalang yang baru. Teman-teman kemudian memanggilku Pa Ketu X. Sementara pengurus dan anggota lain tak banyak berubah. Masih nama-nama yang tadi. Pasang surut kondisi FLP Cabang Pemalang. Anggota-anggota petensial datang dan pergi. Beberapa bulan aktif di FLP, lalu keluar kota, hilang lagi.
Terakhir, aktivis FLP Pemalang tertinggal tiga saja. Aku, Untari dan Fiya. Kegiatan rutin semakin jarang, lalu vakum. Meski ketika ada Pameran Buku di Pemalang, aku hampir selalu diundang untuk mengisi talkshow kepenulisan. Sebab ketika manggung aku selalu memperkenalkan dan membawa nama FLP, itu menjadi kesempatan untuk mengabarkan pada orang-orang, bahwa di Pemalang ada FLP.
Beberapa bulan yang lalu, aku diundang secara khusus oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Pemalang. Aku diundang sebagai Library Supporter. Rupanya di Perpusda sedang ada program Perpuseru. Selama lima hari, aku rutin mengikutinya.  Asyiknya juga pelatihan kepustakaan itu. Pada sesi-sesi akhir peserta diminta membuat program-program yang akan dijalankan Perpusda menggandeng Library Supporter. Aku sendiri turut serta merencanakan program-program itu. Salah satu rencana adalah mengadakan Akademi Menulis Pemalang.
Aku kembali mengajak teman-teman FLP, berasaha menggairahkan kembali semangat ber-FLP. Meski ternyata, yang masih dapat diandalkan tinggal Untari dan Fiya. Tidak apa. Akademi Menulis Pemalang pun dimulai, rutin dua pekan sekali, bertempat di Perpusda. Ada beberapa teman baru yang cukup antusias untuk jadi penulis. Alhamdulillah. Group WA pun dibuat. Diskusi-diskusi tidak hanya berjalan pada pertemuan rutin. Seru juga.
Dan minggu lalu, tiba-tiba aku harus menjadi Ketua FLP Wilayah Jawa Tengah. Padahal…, kondisi per-FLP-an sedang begini ya.. Doakan kawan, agar aku dapat mengemban amanah dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Dah…..

Kamis, 21 April 2016

Peran US dalam Membentuk Generasi Tinggal Landas



Ujian Sekolah Berstandar Provinsi, atau gampangnya kita sebut saja US, untuk tingkat Sekolah Dasar akan dilaksanakan, 16 Mei mendatang. Saya yang saat ini masih menjadi waka kurikulum di SDIT Buah Hati tentu ikut merasa was-was, kalau-kalau hasil US nanti tidak memuaskan. Apalah lagi para guru wali pendamping belajar kelas enam. Ah, pasti ketar-ketir tiap hari. Sampai panas dingin, pusing tujuh ratus keliling, sepertinya. Tanggung jawab yang besar dan berat. Dua kwintal dua kilo plus dua on barangkali. Bagaimana hasil US peserta didik nanti, guru wali kelas enamlah yang akan terutama dilihat. Kalau nilainya bagus-bagus, mungkin akan ikut mendapat pujian dan ucapan selamat. Mungkin. Ya, hanya mungkin. Akan tetapi kalau ternyata nilai-nilai US peserta didik tidak memuaskan, guru wali kelas enam harus siap bila mendapat cibiran.
Padahal, sukses tidaknya peserta didik kelas enam menempuh US mestinya tak hanya menjadi tanggung jawab yang ditindihkan pada pundak guru wali kelas enam. Seluruh civitas akademik, juga orang tua memiliki peran masing-masing yang teramat penting. Ah, sungguh TERLALU, misalnya bila guru wali kelas enam sudah pontang-panting, melakukan berbagai cara agar nilai anak-anak didiknya bagus-bagus, sementara orang tua di rumah justru tidak perhatian, pasrah bongkokan kepada sekolah. Contoh lain, ketika guru wali kelas enam benar-benar lagi pusing tujuh ratus keliling atau bahkan tujuh ribu keliling karena melihat hasil tryout yang belum memuaskan, sementar guru lain tidak memberikan dukungan, justru melemahkan. Misalnya dengan pertanyaan retoris; “Piye sih ngajare?”
Ah, sesungguhnya yang was-was dengan hasil US tidaklah hanya peserta didik yang akan menjalaninya – ah, sebagian dari mereka nyantai-nyantai aja tuh – orang tua dan guru wali kelas enam, tapi juga kepala sekolah yang akan mendapat sorotan, di atasnya ada pengawas, kemudian kepala UPPK, lalu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga tingkat Kabupaten. Barangkali hingga bapak Bupati. Maka, semua yang “berkepentingan” dengan nilai US itu melakukan berbagai upaya agar nilai-nilai US peserta didik di sekolah memuaskan.
Nah, upaya-upaya itu ada yang baik, positif dan memang selayaknya dilaksanakan. Akan tetapi ada pula yang buruk. Saya hendak fokus pada upaya yang buruk ini. Misalnya bila ada oknum guru, kepala sekolah, pengawas atau yang di atasnya, atau yang lain-lain, yang secara langsung ataupun tidak, menganjurkan peserta didik untuk berbuat curang dalam menempuh ujian. Anak disuruh contek-mencontek, yang pintar memberi jawaban pada yang tulalit mikirnya. Pengawas ruang ujian pun dilarang “rusuh” mengingatkan, apalah lagi mengabil lembar jawaban atau hukuman lain. Cukup dilihat saja lah. Jangan sampai menganggu kekhusukan dan meruntuhkan mental anak dalam mengerjakan ujian dengan cara tidak jujur itu.
Saya sih berharap oknum seperti itu tidak ada lagi. Akan tetapi kalau ternyata masih ada, atau ternyata oknumnya banyak…, waduh bahaya. Sungguh bahaya. Institusi pendidikan kita, sepertinya akan sukses membentuk apa yang disebut Emha Ainun Najib dengan Generasi Tinggal Landas.  Artinya generasi yang menginggalkan landasan nilai-nilai kehidupan. Ironis.
Institusi yang seharusnya membentuk karakter, akhlak mulia calon-calon pemimpin bangsa, justru menjadi tempat yang menghancurkan karakter, merusak akhlak. Guru yang semestinya menjadi tauladan, tersungkur nilainya dihadapan kebenaran dan nilai kehidupan. Cukup satu contoh tadi saja, menganjurkan, atau menggiring anak-anak agar tidak jujur-jujur amat dalam menempuh Ujian Sekolah. Sungguh itu cukup untuk merusak karakter anak dan pada akhirnya menghancurkan generasi penerus bangsa.
Sungguh, kemunafikan yang tak seyogiyanya dipelihara. Bila hal tersebut dilakukan oleh oknum guru misalnya, pastilah peserta didik akan belajar. Bahwa jujur itu baik, jujur itu akhlak mulia, akan tetapi bila menghadapi masalah penting, kepepet pula, maka curang juga oke-oke saja. Anak akan belajar, bahwa untuk hal-hal yang penting baginya, segala cara bolehlah dilakukan, termasuk bila harus menggunakan cara-cara yang melanggar tata nilai dan aturan. Anak akan belajar bahwa nilai US yang sesungguhnya hanya angka-angka itu adalah hal yang sangat penting, bahkan lebih penting dari sifat jujur dan akhlak mulia.
Cukup!
Apalah artinya mengajari, membimbing anak-anak kita agar berkarakter unggul, berakhlak mulia selama hampir enam tahun di sekolah dasar, kalau akhirnya dirusak sendiri oleh guru, gegara khawatir akan nilai US. TERLALU!
Keberhasilan peserta didik menempu US memang penting, akan tetapi sungguh tidak penting-penting amat, bahkan teramat kecil nilainya bila dibanding dengan nilai-nilai positif kehidupan. Teramat tak berharga bila harus ditukar dengan kejujuran yang mengakibatkan rusaknya generasi. Sebab memang mencapai nilai US yang bagus bukanlah tujuan pendidikan kita. Pembaca sudah tahu kan tujuan Pendidikan Nasional?
Tujuan Pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Nah..! Bertaqwa yang bagai mana, berbudi pekerti luhur seperti apa, sehat rohani model apa, kepribadian yang mantap versi siapa, tanggung jawab dalam hal apa, kalau diajari curang, diajari munafik, diajari mementingkan materi daripada tata nilai, diajari mengkhawatiran penilaian orang dari pada berpegang teguh membentuk pribadi yang mulia?
Maka saya mengajak siapa saja, terutama yang terkait erat dengan dunia pendidikan, mari sama-sama saling dukung, agar anak-anak kita berhasil dalam sekelolah yang salah satu indikasinya adalah bagusnya nilai US. Ah, itu hanya indikasi kecil saja. Akan tetapi jangan sampai karena itu kita membuang jauh kejujuran. Jangan karena itu kita khianati hati nurani. Jangan sampai untuk itu kita menghancur-leburkan karakter generasi penerus bangsa, hingga menjadi generasi tinggal landas.