Tampilkan postingan dengan label Jejak Langkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak Langkah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Januari 2018

Hidup adalah Kenangan



Menurutku.., iya, memang hanya menurutku, sebagian besar hidup kita ini adalah kenangan. Terutama hidupku sendiri. Sebab sebagian besar hal yang kualami memang telah berlalu, panjang, sedari keluar dari rahim ibunda, hingga sedetik lalu. Sedang saat ini, akan segera pula berlalu, kemudian tumbuh menjadi kenangan. Sementara esok, masih belum pasti adanya. Maka, yang ada adalah kenangan dan kenangan.
Dan tahukah kamu, sebagian besar kenangan itu selalu bicara tentang kamu. Ya kamu. Hanya kamu. Ah, nanti, seluruh isi buku ini, sepertinya juga akan terus bicara tentang kamu. Kamu yang hilang. Kamu yang jadi kenangan. Iya kamu adalah kenangan itu. Sebab aku mencintai kenangan, maka aku juga mencintaimu. Sebab aku mencintaimu, aku mencintai kenangan.
Aku.., iya hanya aku – tak mengapa kan ngomongin diri sendiri? – adalah pencinta kenangan, pencintamu. Dalam sendiri, ketika larut malam, saat turun hujan, anganku tak berhenti melayang, ke sana ke mari menyusuri kenangan, meniti jalan-jalan yang pernah kita lewati bersama.
Berselancar di lautan kenangan, seringkali buat bibir ini tersenyum, meski tak jarang hendak menjungkalkankanku karena siksanya. Kamu tahu, kehilanganmu adalah siksaan terberat yang pernah kurasai? Kadang aku juga malu. Malu akan diriku yang dulu. Malu akan tingkahku yang lalu-lalu. Bahkan aku malu karena sampai kehilanganmu. Kamu yang indah itu.
Sementara baris-baris kalimat ini kutulis ketika hujan menyapa. Tanpa petir dan geledeknya, suasana saat ini sungguh syahdu, mengajakku bergegas, membuat lubang dan lorong angan, menuju dunia kenangan. Dunia kamu. Aku akan berpetualang ke sana. Sebab aku tahu, kamu akan selalu ada di sana. Meski tidak sedang menungguku.
Andai aku bisa pergi ke masa lalu... Ya, hanya andai. Sebab bila menjadi kenyataan, itu pasti hanya dalam film, dan film bukan kenyataan. Kenyataannya, aku suka berandai andai. Andaianku kali ini, tentang kembali ke masa lalu. Bukan back to the future, sebab kamu juga tahu, future itu kan masa depan.
Andai andaianku itu jadi kenyataan, barangkali aku akan lebih sering pergi ke masa lalu, dari pada menjalani hari ini. Bukankan telah kukatakan tadi, bahwa aku ini adalah pencinta kenangan. Sedang kenangan itu, hampir seluruhnya adalah kamu. Meski hidupku terasa hari ini dan aku berjuang untuk hari esok, tapi kenangan demi kenangan itu sungguh sesuatu. Kenangalah yang membuatku hari ini merasa lebih hidup. Kenganganlah yang tetap membuatku berdiri untuk menyongsong hari esok.
Kini aku sadar, bila dapat memaknai masa lalu dengan lebih mendalam, seringkali kita dapat berpetualang ke hutan-hutan yang lebih lebat, gunung-gunung yang lebih menjulang, menyusur sungai yang lebih deras arusnya, hingga samudera yang maha luas. Segala sesuatunya menjadi lebih dalam, lebih tinggi, lebih lapang, bahkan bila dibanding saat-saat peristiwa itu berlaku.
Seperti ketika perjumpaan dengan seseoarang, dulu terasa biasa saja. Orang itu bukan siapa-siapa dalam hidup ini. Hadir, pergi, lalu segera dilupakan. Akan tetapi ketika masa berganti, pertemuan itu, orang itu, kepergiannya, ternyata menjadi bermakna. Mengenang senyumnya membuatku kembali tersenyum. Mengenang saat-saat bersamanya menghadirkan bahagia. Lalu ketika teringat kepergianya, terasa betul ada yang hilang. Ah, aku pernah merasainya, kehilangan itu. Meski seseorang itu bukan kamu, maaf, aku juga sempat kehilangan dia. Tapi kehilanganku akan dirimu, rasanya kini telah menutup semua kehilangan. Terlalu besar, terlalu luas, terlalu dalam.
Atau waktu kecil, ketika itu aku, kamu dan kawan satu sekolahan jalan-jalan menyusuri perbukitan dekat kampong. Ah, dulu rasanya sungguh biasa. Tiada yang spesial. Akan tetapi setelah musim berganti musim, tahun demi tahun berlalu, pengalaman sederhana itu ternyata menjadi arus kenangan yang begitu deras menghayutkan. Merenunginya, memaknaiknya, membuatku ingin kembali ke sana. Ingin kecil lagi. Ingin bersama-sama lagi.

Senin, 24 April 2017

di Pameran Buku


Entah, ini untuk kali keberapa Bulan April tahun 2017 aku mengisi di Pameran buku. Yang jelas, tiap ada Pameran Buku dan di situ ada panggungnya, aku selalu tampil. Barangkali sejak tahun 2008-an, ketika pertama kali di Pemalang ada Pameran Buku.

Malah dulu di Pameran Buku Kabupaten Tetangga, aku juga sering mengisi acara Talkshow Kepenulisan. Mulai dari Pekalongan, Batang, Tegal hingga Brebes.

Patnerku kala itu yang sering adalah Mba Yossi Mailani dan Mba Ummu Sulaim dari Pekalongan. Kami sering sepagung bareng.

Selanjutnya, aku lebih sering tampil bersama Siti Untari. Terkadang sama Pak Eko Hadi Kusuma. Setidaknya talkshow-talkshow di Pameran Buku itu menjadi bukti bahwa di Pemalang masih Eksis Forum Lingkar Pena. Juga berarti, aku yang masih seperti ini, terakui sebagai seorang penulis. Ya, PENULIS. 


Terima kasih untuk Pak Widodo Saputro dengan PT Netral Organizernya yang selalu mengajak kami meramaikan Pameran Bukunya.



Aku, Menulis dan FLP

Tahun 2003 seingatku, di akhir masa kuliah, diajak teman aku bergabung menjadi anggota FLP Yogyakarta. Waktu itu masih jamannya Galang Lufityanto, Ganjar Widhiyoga, Jazimah Al-Muhyi, Hara Hope dan lain-lain yang aku sudah lupa. Sekedar ikut-ikutan saja, biar ada kegiatan. Tapi aku senang mengikutinya, setidaknya aku punya teman-teman baru. Menulis jelas bukan duniaku waktu itu. Bahkan aku kenal baca buku saja sewaktu kuliah. Dari SD hingga SMK tak kenal buku kecuali buku pelajaran. Nah menulis…, aih.
 Ah, suatu sore di pertemuan rutin FLP Yogyakarta, pengurus memberi tugas kepada seluruh anggota untuk membuat tulisan bebas. Ya, bebas sebebas-bebasnya. Akan tetapi aku bingung mau nulis apa. Hingga mendekati dead line waktu, aku pun menulis, kira-kira begini. “Aku sedang mengikut pertemuan Forum Lingkar Pena Yogyakarta. Panitia memberiku tugas menulis bebas. Tapi aku bingung mau nulis apa. Ya sudah, aku tulis ini saja.”
Ya, begitu, hanya begitu. Betapa lugunya. Betapa aku tak bisa nulis. Di lain kesempatan, giliran karyaku, sebuah cerpen dibedah. Ah, hancur. Dibantai aku. Juelek banget.., barangkali itu pikir teman-teman. Tak mengapa, sebab memang waktu itu aku sama sekali tak berniat jadi penulis. Tiada bakat sedikit pun, pikirku. Memang, hingga hampir lulus kuliah itu, aku belum tahu apa bakatku.
Waktu berlalu. Aku lulus kuliah, kerja.  Aku semakin jarang mengikuti pertemuan rutin FLP. Hingga tidak sama sekali. Menulis bukan duniaku.
Terus bagaimana ceritanya aku bisa jadi penulis? Begini. Tahun 2005, aku resign dari sebuah BMT, koperasi syariah terbesar di Indonesia kala itu. Sebabnya, aku dan kakak berencana membuka rental komputer.  Kami telah membeli beberapa komputer, akan tetapi tempat usaha belum tersedia. Kakak sudah memesan tempat kontrakan, akan tetapi kami masih harus menunggu beberapa waktu, sebab tempat usaha itu masih ditempati. Padahal aku terlanjur resign.
Tiada kegiatan. Bingung mau apa. Ada komputer. Nulis.
Ya, aku menulis. Serius kali ini. Tersemangati oleh kakak kelas di kampus yang katanya sudah menerbitkan buku, aku jadi pengen. Maka aku nulis buku. Ya, nulis buku. Tidak nulis cerpen seperti waktu ikut FLP. Tidak nulis artikel untuk Koran atau majalah. Hampir tiap hari aku menulis. Ngebut, sehari bisa sepuluhan halaman. Sekitar dua pekan, satu naskah buku kelar.
Naskah itu kubawa ke penerbit, Navila group yang kantor Jl. Kaliurang, mendekat ke Merapi. Aku ketemu kakak tingkatku di kampus yang telah menerbitkan buku itu. Solichul Hadi namanya. Dia menjabat sebagai manager sekaligus senior editor di penerbit tersebut. Naskah kuberikan padanya.  Langsung dikopi ke komputer, langsung dibaca, dan langsung…
DITOLAK.
Itu sebuah pengalaman. Dan pengalaman adalah pelajaran. Kata Kak Solichul Hadi, tulisanku bahasanya terlalu kaku, tidak menarik. Aku tak menyerah, nulis lagi, ngebut lagi. Sehari masih bisa sepuluhan halaman. Kali ini dengan bahasa yang rebih ringan, lebih renyah. Dua pekan, satu naskah buku hampir kelar. Tak sabar aku. Kubawa naskah baru itu ke peberbit yang sama. Kembali aku bertemu dengan Solichul Hadi. Naskahku di kopi. Sayangnya kali ini tak bisa langsung dibaca. Barangkali karena lagi sibuk, atau berpikir tulisanku pasti tak bermutu, sudah ada pengalaman sebelumnya.
Aku pun tak berharap banyak. Tujuanku terutama adalah untuk mendapat masukan, tentang naskahku yang baru. Aku tak sabar untuk mendapatkan kabar tentang naskahku itu. Ingin dapat masukan dari penerbit. Dua pekan kira-kira setelah kukirimkan naskah itu, aku menelpon peberbit. Kak Solichul Hadi juga yang mengangkat. Mengesampingkan rasa malu aku pun bertanya: “Kak, gimana naskahku?”
Sekali lagi, aku hanya ingin mendapat masukan tentang tulisanku yang baru. Ingin bisa menulis lebih baik. Barangkali kelak, aku jadi penulis beneran. Barangkali tulis-menulis akan menjadi duniaku. Lalu apa jawaban Kak Solichul Hadi? 
“Oh, naskamu sudah diterima. Insya Allah, nanti sekitar dua tiga bulan bisa terbit.”
Jreng!!!
“Hidup Kaya Raya Mati Masuk Surga,” keren juga kan judul buku pertamaku. Tentu saja aku sama sekali belum kaya raya, apa lagi masuk surga. Akan tetapi itu sebuah cita-cita. Covernya asyik, ilustrasi bikinan Firman yang kelak menjadi temanku, bahkan ngontrak bersama di satu rumah.
Dapat menerbitkan buku rasanya sungguh luar biasa. Seperti mimpi. Kubuka lagi-kubuka lagi buku bersampul merah dengan gambar orang berleha-leha itu. Ini bukuku. Keren.., aku penulis. Kubaca berulang, meski aku sendiri yang menulis, cukup hapal apa isinya. Lalu kala honor menulis pertama kali dapat kupegang. Ah, bahagia. Uang terbanyak yang sempat aku pegang kala itu.
Terbit satu buku membuat semangat menulisku makin membara. Beku berikutnya kurancang, kutulis, makin ngebut. Dua pekan kemudian satu naskah buku kembali rampung kugarap. Kuberikan naskah itu ke Kak Solichul Hadi. Cukup lama aku tak mendapat kabar naskahku. Sementara aku mulai sibuk mengurusi rental komputer yang sudah buka. Tapi kemudian Kak Solichul Hadi mengabarkan, bahwa dia berencana menerbitkan bukuku itu sendiri, bikin penerbitan sendiri. Betul, selang dua atau tiga bulan, buku keduaku terbit, “The Power of Smile.”  Hasyiik…!
Sebab telah menerbitkan buku itu, aku jadi PD untuk bergabung lagi degan FLP. Beberapa kali aku sempat ikut lagi pertemua FLP Yogyakarta di Balerung UGM sayap selatan. Di situ aku kenal Mas Ferry Muhammad, seorang penulis yang punya penerbitkan buku. Dua naskah buku yang telah kutulis kuserahkan padanya. Beberapa waktu kemudian dia mengabarkan bahwa akan menerbitkan salah satu naskahku. Ah, luar biasa. Cukup lama proses penerbitannya. Aku bersabar. Sempat Mas Ferry mengajakku ke percetakan, lalu memberikan setting buku itu sebelum dicetak. Dan ketika buku ketigaku benar-benar terbit, aku semakin yakin, bahwa aku memang bisa menulis, he.
Beberapa pihak pun mulai mengenalku sebagai penulis buku. Sempat aku diundang beberapa pihak untuk bedah buku. Selanjutnya, aku harus belajar ngomong. Ya, ngomong. Sebab aslinya aku ini pendiam. Jarang-jarang bicara. Kalau pun bicara, suaraku lirih, nyaris tak terdengar. Memang, dulunya aku pemalu, sangat pemalu. Akan tetapi, setelah menerbitkan buku, aku jadi lebih PD bicara di depan publik. Meski seringkali aku harus latihan dan mempersiapkan betul-betul apa yang hendak kusampaikan ketika mengisi bedah buku, kajian ataupun training.
Karier kepenulisanku sedikit naik setelah buku keempatku terbit. “Change Now! Jurus Dahsyat Muslim Huebat!” diterbitkan BookMagz Pro-U Media. Ya, Pro-U, penerbit keren di Jogja itu. Setelah buku ke empat itu terbit, aku jadi lebih sering diminta jadi pembicara. Entah untuk bedah buku, training kepenulisan atau yang lainnya. Rasanya, aku benar-benar jadi penulis.
Awal tahun 2007 aku menikah, lalu pindah ke Pemalang, tanpa pekerjaan. Satu yang kubisa, menulis. Maka itu yang aku lakukan. Setahun kemudian aku mulai bekerja di SDIT Buah Hati, memulai karier sebagai TU. Kemudian menjadi guru PAI, TIK, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, hingga Waka Kesiswaan dan terakhir Waka Kurikulum. Bersama itu, beberapa bukuku terbit. Ada True Friend, Muslim Tangguh, Unlimited Learning, Journey of Life…
Di sisi lain, seorang teman menggandengku untuk mendirikan FLP Cabang Pemalang. Pak Prapto namanya. Kabarnya beberapa artikelnya pernah dimuat di Koran. Tentu saja aku setuju, sebab menulis memang telah menjadi duniaku. Aku pun kontak-kontak Mba Izzatul Jannah, ketua FLP Jawa Tengah kala itu. Bersama PAKAR; Pusat Kajian Remaja, akhirnya FLP Cabang Pemalang Lounching. Kali itu sempat menghadirkan Afifah Afra.
Mula-mula kegiatan rutin FLP Pemalang diikuti cukup banyak peserta, akan tetapi semakin surut dan surut. Malah Pak Prapto, sang ketua juga mulai kurang aktif. Dan ketika akhir Muscab, aku menjadi ketua, anggota FLP Cabang Pemalang tersisa beberapa saja. Apalah lagi pengurusnya.
Sempat aku merasa berjuang sendiri di FLP Cabang Pemalang. Sebab entah untuk berapa lama, aku memang mengurusinya sendirian. Aku merencanakan sendiri kegiatannya, lalu mengsms sebanyak-banyak nomor HP untuk ikut kegiatan, pada hari H, aku juga yang mengisi. Hal itu berlangsung untuk beberapa lama.
Untunglah, kemudian aku menemukan beberapa prajurit setia. Ada Siti Untari, Santi Widiyastuti, Alfiyaturrahmah, Yani Noor Wijayanti, juga Desi Lisnasari. Meski aggota FLP tak banyak, tapi kegiatan rutin berjalan. Sempat juga mengadakan talkshow dan pelatihan kepenulisan.
Setelah menjabat ketua untuk beberapa lama, tiba saatnya Muscab lagi. Siti Untari terpilih menjadi ketua FLP Cabang Pemalang yang baru. Teman-teman kemudian memanggilku Pa Ketu X. Sementara pengurus dan anggota lain tak banyak berubah. Masih nama-nama yang tadi. Pasang surut kondisi FLP Cabang Pemalang. Anggota-anggota petensial datang dan pergi. Beberapa bulan aktif di FLP, lalu keluar kota, hilang lagi.
Terakhir, aktivis FLP Pemalang tertinggal tiga saja. Aku, Untari dan Fiya. Kegiatan rutin semakin jarang, lalu vakum. Meski ketika ada Pameran Buku di Pemalang, aku hampir selalu diundang untuk mengisi talkshow kepenulisan. Sebab ketika manggung aku selalu memperkenalkan dan membawa nama FLP, itu menjadi kesempatan untuk mengabarkan pada orang-orang, bahwa di Pemalang ada FLP.
Beberapa bulan yang lalu, aku diundang secara khusus oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Pemalang. Aku diundang sebagai Library Supporter. Rupanya di Perpusda sedang ada program Perpuseru. Selama lima hari, aku rutin mengikutinya.  Asyiknya juga pelatihan kepustakaan itu. Pada sesi-sesi akhir peserta diminta membuat program-program yang akan dijalankan Perpusda menggandeng Library Supporter. Aku sendiri turut serta merencanakan program-program itu. Salah satu rencana adalah mengadakan Akademi Menulis Pemalang.
Aku kembali mengajak teman-teman FLP, berasaha menggairahkan kembali semangat ber-FLP. Meski ternyata, yang masih dapat diandalkan tinggal Untari dan Fiya. Tidak apa. Akademi Menulis Pemalang pun dimulai, rutin dua pekan sekali, bertempat di Perpusda. Ada beberapa teman baru yang cukup antusias untuk jadi penulis. Alhamdulillah. Group WA pun dibuat. Diskusi-diskusi tidak hanya berjalan pada pertemuan rutin. Seru juga.
Dan minggu lalu, tiba-tiba aku harus menjadi Ketua FLP Wilayah Jawa Tengah. Padahal…, kondisi per-FLP-an sedang begini ya.. Doakan kawan, agar aku dapat mengemban amanah dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Dah…..

Minggu, 06 April 2014

Ngisi Talk Show

menulis

Alhamdulillah, lumayan sering mengisi Talk Show. Moga barakah buat diri dan orang lain.

Rabu, 26 Februari 2014

Really Something. Syukur Deh!

Pendiam.  Malah beberapa orang mengenalku sebagai orang yang hampir-hampir tak pernah biacara. Kalau pun bicara suaraku lirih, mirip iklan jadul itu, nyaris tak terdengar. Selain itu, aku tak PDan, suka minder, grogian, tak pandai bergaul. Itulah aku yang dulu. Ya, dulu... Meski sejujurnya, hari ini pun aku masih yang dulu, tak jauh berbeda. Diriku saat ini tak lepas dari kekurangan-kekurangan itu. Masih suka minder, masih merasa tak pandai berbincang dan berramah-tamah.
Benar bahwa aku sempat menoreh prestasi – akademik – yang cukup memuaskan. Berkali-kali peringkat satu waktu SMK. Lalu dapat beasiswa untuk kulia. Lulus S1 dalam waktu 3 tahun. Akan tetapi, aku juga bukan orang yang pintar-pintar amat. Malah kadang-kadang juga culun, dalam hal-hal tertentu.
Siapa sangka bahwa di kemudian hari, ada buku yang terbit atas namaku sebagai penulisnya. Really something deh. Kemudian aku diminta mengisi bedah buku, training, talk show dan semacamnya. Harus bebicara di depan orang banyak, menepis grogi, mengusir minder. Pada akhirnya aku pun merasa bisa, PD, merasa dapat berbagi ilmu, meski setitik. Kemudia buku kedua, ketiga, keempat dan seterusnya terbit. Meski belum kesohor, tapi semakin banyak pula yang mengenalku sebagai penulis. Tak hanya di daerah sendiri aku tapi juga diminta mengisi acara keluar kota. Memang belum keliling Indonesia, belum ke luar negeri, tapi setidaknya Jawa Barat pernah, Jawat Timur juga. Kalau di Jawa Tengah dan Jogja alhamdulillah sudah cukup sering.
Alhamdulillah, berkat menulis buku, terbuka jalan-jalan lainnya. Pun ketika pindah ke Pemalang sebagai pengangguran dan mulai punya tanggungan keluarga, ada juga yang menawari pekerjaan. Di kala banyak orang kesulitan mencari kerja, aku justru ditawari, setengah maksa pula. Mulanya aku rada enggan ketika diminta jadi TU di SDIT Buah Hati. Baru ketika pengurus yayasan nelpon langsung, aku menanggapi. Kudatangi sekolah itu dan mendaftar sebagai karyawan. Inilah aku hari ini, masih jadi Waka Kurikulum di SDIT yang sama.
Mana dulu sempat menduga pula, kalau ternyata aku bisa menjahit baju. Setahun yang lalu, entah datang dari mana itu, punya ide bikin kaos, nyablon sendiri. Aku beli alat-alat sablon dari seorang kawan, dengan syarat harus diajari cara nyablon. Aku pun belajar, satu kali, hanya sampai bikin film, belum praktek nyablon. Kupraktekkan di rumah. Ternyata aku bisa nyablon kaos, meski masih yang sederhana-sederhana saja.
Lalu tiba-tiba ada ide beli mesin jahit. Nyari-nyari mesin bekas. Dapat. Sekalian obras pula. Lalu beli bahan kaos kiloan. Coba bikin kaos, bikin gamis, kok ternyata bisa.
Istriku kursus menjahit, harusnya 4 bulan, dijalani 2 bulan. Berbekal pengetahuan istri, kami terima pesanan. Ternyata teman-teman pada pesan. Jadilah aku tukang jahit. Istriku yang biasa motongin bahannya. Pesanan kian beraneka. Belajarlah aku menjahit berbagai model gamis dan kaos. Belajar, tapi hasilnya langsung dijual. Sayangnya, sudah beberapa bulan terakhir ini berhenti, gak tahu mengapa...
Intinya, bayak sekali kemudahan yang Allah berikan kepadaku. Tapi rupanya aku sungguh kurang bersyukur. Kesulitan-kesulitan, kesedihan, rasa lelah dan sebagainya justru sering mendominasi. Astaghfirullah, ampuni ya Allah.
Tempo hari ketika komen-komenan sama Dwi Suwiknya, adik kelasku di kampus yang kini aktif menulis, aku jadi tersentil. “Sayang kalau potensi yang Allah berikan tidak kita kembangkan ya?” tanyanya. Sindiran halus buatku.
Ya, berbagai kemampuan telah Allah karuniakan kepadaku. Aku sungguh harus mensyukurinya. Mengoptimalkan potensi itu, untuk diriku, keluarga, negara, umat manusia dan agama. Mudah-mudahan aku bisa. Doakan aku ya kawan.
Maka aku mulai nulis lagi. Kubuta blog baru, gurupenamenari@blogspot.com. Alhamdulillah sudah mulai posting-posting. Moga memberi manfaat. Bila sudi memberi masukan, aku sungguh berterima kasih. Yuks, semangat berkarya, semangat menulis!

Semoga kemampuan-kemapuanku yang lain juga dapat terus aku kembangkan.