Home » All posts
Senin, 08 Februari 2016
Kamis, 04 Februari 2016
Selasa, 02 Februari 2016
Bahagia dengan Cara Sederhana
Pengen bahagia? Dua kuncinya, sabar dan syukur. Bila
dua kunci itu telah dipegang, sabar dan syukur telah menjadi karakter kita, niscaya
kebahagiaan akan senantiasa menghampir. Kita dapat berbahagia dengan cara-cara
yang sangat sederhana, murah, bahkan tanpa biaya.
Tersebab
bahagia tak jauh dari syukur dan sabar, maka segala hal di sekeliling kita
dapat mendatangkan kebahagiaan. Kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan kepada
kita tentu akan mendatangkan kebahagiaan. Apa lagi bila kita syukuri dengan
sepenuh penghayatan. Sedangkan ketidaknyamanan atau kesulitan yang kita hadapi
juga mendatangkan kebahagiaan bila kita mampu menghadapi dan melewatinya dengan
sabar.
Ketika
rasa bersyukur kepada Allah meningkat, maka, sungguh kebahagiaan akan mudah
kita peroleh. Suatu ketika saya pernah menangis bahagia, ketika pertama kali
merasakan makan siang atas usaha sendiri. Bahkan saya sempat melelehkan air
mata syukur, hanya karena suatu malam melihat kerlip cahaya kecil yang memantul
di tanah. Masya Allah, luar biasa kehidupan yang Allah ciptakan, dzikirku saat
itu.
Maka untuk menjadi bahagia tak harus menunggu kaya-raya. Menjadi bahagia tak
harus meraih jabatan tinggi dalam pemerintahan atau sebuah perusahaan bonafit.
Bahagian bukan berarti harus menikahi gadis cantik bagi seorang lelaki, atau dipinang
pria tampan untuk seorang perempuan. Pun memiliki rumah yang luas dan indah,
mobil mewah, juga gatget-gatget tercanggih bukan merupakan syarat untuk menjadi
bahagia.
Banyak
cara sederhana untuk menjadi bahagia dan lebih bahagia lagi. Luangkan waktu
untuk tersenyum misalnya, insya Allah,
membuatmu bahagia. Bila tak percaya, coba saja! Yuks senyum… (-_-). Di samping itu, kita dapat mensyukuri nikmat minum air putih yang menyegarkan, menikmati datangnya hujan, berolahraga, mengunjungi saudara, membantu orang mengangkat beban, memberi tambahan penghasilan bagi seorang tukang becak (bersedekah), berbagi kisah hikmah dengan anak-anak dan sebagainya, membaca, menulis. Ah, betapa banyak cara sederhana untuk menjadi bahagia, dan lebih bahagia lagi.
Rabu, 27 Januari 2016
Lima Taquuluun
Pagi-pagi
nyetel muratal. Mishaari Raasyid al-Aafaashii, ash-Shaff. Tiba-tiba dua ayat popular
itu seakan mengetuk-ngetuk kesadaranku.
“Hai orang-orang yang
beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar
kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”
(Q.S. As-Shaff: 2)
Dua
ayat yang sering kudengar. Dua ayat yang sudah kuhapal terjemahannya, entah
sejak kapan. Dua ayat yang sering menjadi pokok pembicaraan dalam kajian.
Biasanya tak terlalu membuatku gelisah. Sebab ketika aku berkata begini-begitu,
yang baik-baik, itu adalah proses pembenahan diri. Bahwa mungkin aku sendiri
belum mampu melaksanakan apa yang kusampaikan, tapi terus berupaya untuk bisa. Hal
itu untuk memotivasi diri, agar aku tergerak, take action dan pada akhirnya tidak omdo, omong doang.
Pun
ketika menulis. Nasihat, motivasi, ataupun gambaran-gambaran mengenai amal
kebaikan yang kutulis, juga dalam rangka merancang visi, memotivasi diri dan
memimpikan masa depan yang lebih baik. Ketika menulis buku Muslim Tangguh, aku
ingin menjadi sosok seperti yang kutuliskan. Menulis buku Change Now!, aku
ingin senantiasa berubah menjadi lebih baik, saat demi saat. Menulis buku Kakayaan
Hati, aku ingin Allah senantiasa memenuhi hatiku dengan kekayaan ruhani.
Menulis buku Unlimited Learning, aku ingin terus belajar, belajar dan terus
belajar. Dan seterusnya dan seterusnya.
Ah,
dalih. Kali ini kurasai itu sebagai dalih. Sebab terlalu banyak yang telah
kukatakan, dan belum dapat kulakukan. Sebab seringkali aku tak serius belajar menjadi
sosok tangguh, seseorang berkepribadian mulia yang kuimpikan. Aku masihlah
seseorang yang terbiasa membuat waktu dengan hal remeh-temeh tak bernilai untuk
akhiratku. Aku masih seorang yang mudah mengeluh, mudah menyerah ketika datang
hambatan dalam beramal kebaikan. Aku masihlah orang yang tak konsisten dengan
konsep-konsep kebaikan yang pernah kusampaikan. Aku bilang pada orang untuk
beramal, nyatanya aku sendiri hanyak duduk. Aku bilang pada orang untuk
semangat, nyatanya aku sendiri loyo. Aku bilang pada orang untuk pantang
menyerah, nyatanya aku sendiri sering mundur. Aku bilang pada orang untuk segera
bangkit ketika sempat jatuh, nyatanya aku bersantai dengan keterpurukan.
Gelisah.
Ya, kini aku gelisah. Barangkali ayat ke-3 surah ash-Shaff itu memang sedang
tertuju padaku. Astaghfirullahal ‘adhiim.
Dan pagi ini aku
menulis. Karena dulu, sering aku menyuruh, dan mengajak orang untuk menulis. Ah,
yuks, saatnya bersemangat lagi, beramal, perbaiki kualitas diri, menulis,
beramal, perbaiki kualitas diri, menulis, beramal, perbaiki kualitas diri,
menulis lagi. Lagi.., dan lagi.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)






